23 Oktober 2008

Krisis Global Untungkan Peternak Ayam Buras


LUBUKLINGGAU-Tak selamanya krisis global merugikan, seperti yang dialami petani karet dan sawit. Sebaliknya peternak ayam buras petelur justru lega, pasalnya keuntungan justru mereka dapatkan dengan adanya krisis global ini. Pasalnya sementara harga pakan ayam belum meningkat, sementara harga jual telur sudah naik beberapa hari lalu.

Seperti dijelaskan peternak ayam buras Ahmad Bariansyah alias Ucik yang memiliki peternakan ayam di Kelurahan Lubuk Tanjung, Kecamatan Lubuklinggau Barat II, harga pakan hingga saat ini belum mengalami kenaikan, yakni Rp 280 ribu per sak. Begitu juga dengan bahan pencampurnya seperti jagung masih Rp 3.000 per Kg dan dedak Rp 1.250 per Kg.

 “Sementara harga pakan belum ada kenaikan. Mungkin dalam waktu dekat juga akan naik harganya,” jelasnya saat ditemui Musirawas Ekspres di peternakannya, Rabu (22/10).

Jika harga pakan belum mengalami kenaikan, ditambahkan Ucik harga telur justru mengalami kenaikan, hal inilah yang menguntungkan peternak seperti dirinya. Harga telun ayam buras saat ini dijual Rp 35 ribu per karpet (30 butir) naik Rp 4.000 dari sebelumnya yakni Rp 31 ribu per karpet. 

Hanya saja ditambahkan Ucik, keuntungan yang didapat ini tidak akan bertahan lama. Pasalnya harga pakan ayam terkenal sering naik, bahkan kadang-kadang tidak masuk akal karena naik berulang-ulang kali tanpa sebab. Belum lagi karena adanya permainan distributor. “Makanya saya pun membeli pakan bukan di Lubuklinggau tapi di Bengkulu,” jelas Ucik yang memiliki 450 ekor ayam dengan kamampuan produksi hanya 40 persen.

Keuntungan lain yang didapatkan, menurutnya meningkatnya harga jual ayam buras. Pasalnya ayam buras petelur yang sudah tidak produktif lagi tetap bisa dijual ke pasangan, dengan harga sama dengan ayam buras lainnya. “Harganya tetap tinggi di pasaran, kalau beberapa hari lalu saya menjual ayam afkir Rp 40 ribu per ekor,” jelasnya.(ME-03)

0 komentar:

Top Reader

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More