EDISI CETAK

Dapatkan informasi terkini di koran harian Musirawas Ekspres (Mureks), media terbesar dan tersebar di setiap pelosok Musi Rawas. Untuk berlangganan dan Pemasangan Iklan, hubungi (0733) 452552.

BALIHO MURATARA

Baliho selamat datang di Muratara yang terpasang di Desa Rantau Jaya Kecamatan Karang Jaya. Muratara diharapkan terbentuk pada sidang paripurna DPR RI Mei hingga Juni 2013

BELUM MAU TERIMA POLISI

Aksi demo yang diwarnai bentrok masyarakat Muratara dengan pihak kepolisian pada Senin (29/4) malam membuat warga sempat beberapa hari pasca bentrok tidak mau menerima kehadiran polisi

ANCAM TUNTUT PEMERINTAH

Ketua Presidium Muratara Muhammad Ibrahim menegaskan, pihaknya akan menuntut pemerintah jika Muratara tidak dimekarkan menjadi Daerah Otonom Baru (DOB). Hal ini ditegaskannya kepada wartawan usai melakukan pertemuan dengan Anggota Komisi III DPR RI Ahmad Yani,(10/5).

Musirawas Ekspres Berikan Bantuan Korban Kerusuhan Muratara

Direktur PT Musirawas Media, Solihin didampingi Camat Muara Rupit, Firdaus dan GM Musirawas Ekspres, Panca Riatno serta Pimred Musirawas Ekspres, Endang Kusmadi menyerahkan bantuan ke keluarga Alm Rinto Arianto.

21 Mei 2013

Bekal 50 Kupon, Warga Bengko Dapat Avanza

    Tampak Suja'i warga Bengko yang mendapatkan hadiah kendaraan mewah saat jalan santai

Bekal 50 Kupon, Warga Bengko Dapat Avanza
*Jalan Sehat HUT Kota Curup ke 133

CURUP–Suja’i (41) warga Dusun 2 Desa Bengko Kecamatan Sindang Dataran mengucap syukur ketika ia dipastikan meraih hadiah utama jalan santai HUT Kota Curup ke 133 yang dimotor Pemerintah Kabupaten Rejang Lebong dan Koran Harian Radar Pat Petulai, kemarin. Bermodalkan 50 lembar kupon jalan santai ini, bapak satu anak ini beruntung mendapatkan 1 unit mobil Toyota Avanza Tipe E.

Sekretaris Daerah (Sekda) RL, Drs Sudirman saat menyerahkan hadiah secara simbolik menilai, hadiah diterima oleh orang yang tepat. Tak dapat dipungkiri, sebagai seorang keluarga petani, Suja’i sangat mendambakan kehadiran kendaraan roda empat.

Hal ini diakui oleh Suja’I yang menegaskan tidak akan menjual mobil tersebut. Ia berjanji akan menggunakannya sebagai alat transportasi keluarga.
“Bapak-bapak tahu sendiri, daerah saya itu masih sangat minim alat transportasi umum dan jauh dari pusat kota. Saya rasa mobil ini akan sangat membantu kami dalam hal transportasi,” ujar Suja’i.

Dikatakan Suja’i, Dirinya tak punya firasat akan mendapatkan hadiah utama dalam jalan sehat tersebut. Hanya saja, niatnya mengikuti jalan sehat memang cukup besar. Berawal dari informasi yang didapatnya bersama kerabatnya bahwa aka nada jalan santai berhadiah dalam HUT Kota Curup. Ia bersama kerabatnya membeli 100 lembar kupon, kemudian dibagi dua. Sebanyak 50 kupon memang diharapkannya dapat mendapat hadiah meskipun hanya hadiah hiburan.

Sementara itu, di bagian lain, jalan sehat sebagai pembuka rangkaian kegiatan HUT Kota Curup dimeriahkan ribuan masyarakat RL. Jalan santai ini dimulai pagi hari start di rumah dinas Bupati RL. Bupati RL, H. Suherman, SE, MM melepas lansung ribuan peserta jalan santai yang berakhir di Panggung Utama HUT Kota Curup di Lapangan Setia Negara.
Selain 1 unit mobil, masyarakat RL yang beruntung lainnya mendapatkan sejumlah hadiah menarik. Seperti 1 unit motor, 1 ekor sapi, 4 unit kulkas dan hadiah menarik lainnya.
“Kita berharap kegiatan ini dapat menjalin tali silaturahmi di tengah masyarakat yang kompak dalam pembangunan,” kata Suherman. (Ifn/pnc)

Sungai Masih Menjadi ’Tempat‘ Sampah

   Aliran sungai Kelingi di Kelurahan Ulak Surung Lubuklinggau


Sungai  Masih Menjadi ’Tempat‘ Sampah

LUBUKLINGGAU-Hingga saat ini masih banyak warga Kota Lubuklinggau  yang tidak segan-segan dan malu untuk membuang sampah di tempat-tempat yang dilarang. Seperti di bantaran bahkan didalam sungai. Indikator ini terlihat  masih seringnya terlihat sampah menumpuk baik di pinggir maupun di dalam sungai.

Tak jarang ada orang yang sengaja melintasi jembatan Sungai Kelingi kawasan Kelurahan Ulak Surung Kecamatan Lubuklinggau Utara II dengan menggunakan  kendaraan bermotor hanya untuk membuang sampah dalam kantong plastik yang dibawa dari rumah. Begitu juga halnya yang terjadi di sungai Mesat Seni Kecamatan Lubuklinggau Timur II .

Sayangnya meski pemerintah sering melakukan sosialisasi dan himbauan tersebut tidak menjadi warga sadar akan dampak yang ditimbulkan oleh sampah di sungai tersebut.

Kondisi tersebut membuat warga Kota Lubuklinggau yang hari-harinya sangat membutuhkan air sungai untuk kebutuhan sehari-hari seperti mencuci dan mandi.

Sarinah, warga Kelurahan Jawa Kanan SS Kecamatan Lubuklinggau Timur II kepada Musirawas Ekspres Minggu (19/5) mengaku akhir-akhir ini dikeluhkan dengan banyaknya sampah yang mencemari air sungai.
“Beberapa hari terakhir ini saat kami mencuci dan mandi di sungai kelingi sangat banyak sampah, bahkan terkadang ada sampah sisa persedekahan seperti kotoran ayam, dibuang kesungai oleh oknum warga yang tidak bertanggung jawab,”ujarnya.

Sementara itu berdasarkan pantauan Musirawas Ekspres di lapangan menunjukan bukan hanya bantaran sungai yang masih menjadi tempat mudah untuk membuang sampah sisa rumah tangga,  para pedagang dan pembelipun kerap kali membuang sampah disekitaran pasar di sembarang tempat.

 “Banyak orang yang berjualan maupun pembeli di pasar ini yang membuang sampah di sembarang tempat. Mungkin mereka merasa membayar uang kebersihan dan akan ada petugas yang membersihkannya, jadi bisa seenaknya. Tetapi masih ada juga orang pasar yang sadar kebersihan seperti mengumpulkan dan membuang sampah pada tempatnya. Jadi tergantung pada orangnya,” keluh Mar, seorang petugas kebersihan. (mnr)

Kendaran PT BRU Dituding Rusak Jalan Warga

Kendaran PT BRU  Dituding Rusak Jalan Warga

LUBUKLINGGAU -Puluhan warga Kelurahan Sumber Agung Kecamatan Lubuklinggau Utara I melakukan pemortalan jalan poros kelurahan. Pemortalan jalan tersebut merupakan ungkapan kekesalan warga karena kendaraan PT Bania Rahmat Utama (BRU) yang merupakan perusahaan penambangan batu yang senantiasa melintasi jalan poros tersebut membuat kerusakan jalan dan menyebabkan debu beterbangan ke pemukiman warga.

“Kendaraan perusahaan telah merusak jalan kami, dengan aktivitasnya yang terus melakukan pengangkutan tanpa mengenal waktu, dan menyebabkan debu yang beterbangan ke pemukiman kami," ungkapnya seorang warga, Angga (32), Minggu (19/5).

Ia menambahkan pihaknya akan terus bertahan di tenda selama dua puluh empat jam guna melakukan pengawasan dan penyetopan apabila kendaraan perusahaan hendak kembali masuk ke lokasi penambangan batu.Penambangan batu tersebut menurutnya telah berlangsung tiga tahun dan sempat terhenti akibat aksi demonstrasi warga, namun dalam satu bulan terakhir perusahaan kembali menjalankan aktivitasnya.
Selanjutnya Ia menjelaskan masyarakat telah sangat gerah dengan aktivitas kendaraan pengangkut batu karena sangat mengganggu ketentraman warga yang sedang beristirahat terutama dimalam hari. Pihaknya berharap pihak terkait dapat segera menindaklanjuti keinginan warga tersebut mengingat keberadaan perusahaan memang tidak memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Aktivitas perusahaan berlangsung 24 jam, sudah tidak terhitung lagi berapa kendaraan yang berlalu lalang melintasi jalan poros ini setiap harinya sehingga jalan menjadi rusak dan sulit dilalui," ujarnya 

Senada disampaikan, Dody (31) bahwa aksi tersebut merupakan akumulasi kekesalan warga. Dan diwujudnyatakan dengan pemortalan jalan poros kelurahan tersebut. Kendaraan perusahaan diperbolehkan keluar namun tidak boleh kembali lagi melalui jalan ini.

“Ini merupakan keinginan masyarakat yang sangat terganggu dengan aktivitas perusahaan, masyarakat akan bergantian berjaga tenda ini agar kendaraan perusahaan tidak kembali melintas," pungkasnya. (trb/mnr)

Warga Sandera Pekerja PT Buana Sari


Warga Sandera Pekerja PT Buana Sari

BTS ULU-Warga Desa SP 4 Bumi Lampung Kecamatan BTS Ulu, menyandera dua pekerja instalasi listrik dari PT Buana Sari (BS). Hal tersebut dilakukan warga karena masyarakat merasa ditipu oleh PT Buana sari, karena ada 44 warga jaringan listrik yang berada di pemukiman warga bermasalah sedangkan uang pembayaran sudah dibayar.

WN (35), warga SP 5 Bumi Lampung Desa Suka Makmur mengatakan, warga geram atas tingkah laku pihak PT Buana Sari yang tidak bertanggung jawab atas permasalahan listrik yang ada di desa tersebut.

“KWH listrik milik warga banyak yang tidak terdaftar di PLN rayon Muara Beliti, akibatnya warga tidak bisa membayar tagihan listrik. Listrik milik warga bisa dibilang illegal, suatu saat PLN mempunyai hak untuk memutusnya,” katanya.

Hal tersebut tidak hanya terjadi di Desa Suka Makmur, namun terjadi juga di desa Lain seperti SP 9, SP 7 dan banyak desa lainnya. Untuk itu warga berharap Pemkab Mura harus sigap dengan masalah ini berkoordinasi dengan pihak kepolisian.

“Karena kasus ini telah lama berlangsung sekitar enam bulan yang lalu dan ketika masyarakat menemui titik jemu akibatnya orang lapangan PT Buana Sari yang menjadi sasaran warga. Sedangkan pemain sebenarnya duduk manis sambil makan uang milik masyarakat,” katanya.
Dilain pihak, Kades SP 5 Bumi Lampung Desa Suka Makmur Kecamatan BTS Ulu, Uci mengatakan, memang sempat dua karyawan PT Buana Sari ditahan oleh warga, namun mereka tidak ada tindak kekerasan hanya ditahan.

“Ada warga kita SP 5 melihat keduanya di SP 7, lalu kedua orang tersebut yang bernama Dandi memang sedang dicari warga termasuk saya untuk meminta pertanggung jawaban atas listrik warga yang kini bermasalah. Keduanya dibawa ke balai desa dan ketika saya pulang dari Palembang mereka didesak untuk bertanggung jawab dan mereka bersedia dengan surat perjanjian,” katanya setelah itu keduanya dilepas warga.

Di Desa Suka Makmur ada 44 listrik milik warga bermasalah yakni bayaran sudah lunas namun KWH belum dipasang, ada juga KWH sudah dipasang tapi tidak ada nomor rekeningnya,serta KWH milik warga beda namanya.

Warga memasang satu unit KWH kepada pihak PT Buana Sari dengan biaya Rp700 ribu per rumah, warga minta untuk dibenarkan saja KWH yang bermasalah. “Saya harap pihak PT Buana Sari dapat menyelesaikan masalah tersebut dengan profesional, agar jangan ada pihak yang dirugikan. Selain warga SP 5 ada juga warga SP 7 dan SP 9 yang datang ke Desa Suka Marmur. Mereka mengklaim bahwa listriknya juga bermasalah,” pungkasnya.(ddp/mnr)

Waspada Koperasi Fiktif, Diskop Lakukan Pendataan

Waspada Koperasi Fiktif, Diskop Lakukan Pendataan

       MUSI RAWAS-Untuk mengejar target 1000 koperasi tahun ini disinyalir banyak dimanfaatkan orang untuk membuat koperasi fiktif dengan harapan bisa mendapatkan bantuan dari Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Diskop UKM) Pemkab Musi Rawas. Untuk memastikan koperasi yang benar-benar aktif dan fiktif itu Diskop UKM akan melakukan pendataan koperasi yang ada.

       Hal itu diungkapkan kepala Diskkop Ukm Pemkab Musi Rawas, Bambang Hermanto melalui Kabid bina lembaga koperasi, Hj.Gusti Rohmani saat dibincangi Musirawas Ekspres.

       Menurutnya, saat ini Pemkab Musi Rawas melalui Diskop Ukm tengah mengejar terpenbuhinya 1000 koperasi di kabupaten Musi Rawas namun diharapkan hal itu tidak dimanfaatkan dengan modus mendirikan koperasi fiktif, untuk memastikan bahwa koperasi yang ada saat ini benar-benar aktif pihaknya akan melakukan pendataan ulang.

”saat ini koperasi yang ada di kecamatan-kecamatan yang ada di kabupaten Musi Rawas sebanyak 979 koperasi artinya tinggal 21 koperasi lagi yang kurang untuk mewujudkan program 1000 koperasi, Setelah terpenuhi maka akan dilakukan verifikasi dan pendataan terhadap koperasi yang aktif maupun tidak aktif,”ungkap Hj.Gusti Rohmani.

    Untuk melakukan pendataan dan verifikasi koperasi itu sendiri direcanakan dilaksanakan sekitar bulan Juli hingga bulan Agustus 2013 mendatang dengan medatangi dan memeriksa langsung kelengkapan dan persyaratan serta laporan rutin koperasi tersebut.

”Pendataan ini selain untuk mengetahui koperasi mana saja yang aktif juga untuk memberikan sosialisasi menenai UU Nomor 17 tahun 2012 tentang perkoperasian. Sehingga koperasi yang aa benar-benar tahu aturan dan mengacu pada prinsip koperasi yakni sifatnya pinjaman dari anggota ke anggota ,”jelas Hj.Gusti Rohmani yang juga menjelaskan ada pengelompkan koperasi menjaqdi empat jenis yakni koperasi produsen, konsumen, koperasi jasa dan koperasi simpan pinjam.

    Verifikasi dan pendataan koperasi yang ada itu sendiri Diskop UKM Pemkab Musi Rawas akan melibatkan pihak koperasi di Kecamatan, sehingga benar-benar bisa diketahui apakah benar-benar berjalan atau hanya tinggal nama.

”syarat untuk membentuk koperasi itu sendiri harus ada ketua, sekretaris, bendahara dan anggota dan pendirian koperasi juga tidak dipungut biaya agar cepat terbentuknya 1000 koperasi pad atahun ini, selanjutnya akan dilverifikasi,”ujar Hj.Gusti.

    Disinggung mengenai adanya koperasi di kecamatan yang ada di Kabupaten Musi Rawas namun ketua dan pengurusnya warga Lubuklinggau atau warga di luar Kabupaten Musi Rawas,  Hj.Gusti Rohmani akan melakukan pengecekan.

”Jika bukan ketuanya hal itu tidak menjadi masalah, namun jangan sampai ketua koperasi di kecamatan Musi Rawas namun warga luar daerah Musi Rawas,”tambahnya.

    Sementara itu, seorang ketua koperasi kecamatan di Musi Rawas, Mar kepada Musirawas Ekpres menceritakan pihaknya sengaja membentuk koperasi di Kecamatan Musi Rawas meskipun bretempat tinggal di Lubuklinggau, hal itu memanfaatkan moment untuk mengejar target terwujudnya 1000 koerasi di Kabupaten Musi Rawas.

”Meskipun kami warga Lubuklinggau namun tidak menjadi masalah untuk mendirikan koperasi di Musi Rawas, dengan cara mencari warga yang ada di Kecamatan yang akan didirikan koperasi itu, hal ini agar bisa mendapatkan bantuan dari pemerintah,”ujar Mar yang enggan menyebutkan nama koperasinya.(ari)

Pembangunan Outlet Danau Aur "Mubazir"




Pembangunan Outlet Danau Aur "Mubazir"
SUMBERHARTA-Sejumlah Fasilitas di objek wisata Danau Aur Kecamatan Sumberharta  belum  berfungsi dan dimanfaatkan. Termasuk outlet-outlet yang belum ditempatkan, sehingga pembangunan ini seolah mubazir.

Rayon (24) Warga R Rejosari kepada Musirawas Ekspres mengatakan dirinya berharap adanya pedagang yang menempatkan outlet yang keadaanya masih kosong sehingga objek wisata tersebut akan terlihat hidup dan menambah wisatawan yang berkunjung.

“Kalau Outlet itu dibuka , maka objek wisata Danau Aur akan semakin hidup dan wisatawan semakin banyak yang berdatangan,” pintanya.

Ditambahkannya, alasan pedagang belum ada yang ingin menempatkan outlet tersebut mungkin karena fasilitas pendukung belum memadai dan juga akses jalan objek wisata danau aur masih belum tersentuh oleh instansi terkait.

“Alasan para pedagang belum ada yang ingin menenpatkan outlet tersebut, mungkin karena fasilitasnya kurang tersedia, apalagi jalannya,masih berlapisi tanah liat,’ ujarnya saat mengakhiri pembicaraan.(ufa)


Rumdin Polsek Rupit Kembali Dibangun

Rumdin Polsek Rupit Kembali Dibangun
*Tabligh Akbar dan Istighosah Sambut Muratara

RUPIT-Kondisi Kecamatan Rupit yang semakin kondusif paska bentrokan yang menyebabkan empat warga tewas di Simpang KBM (Jalinsum KM 72) Kelurahan Muara Rupit, dimanfaatkan untuk kembali membangun sarana dan prasana yang dibakar, salah satunya rumah dinas Polsek Rupit.

Sebelumnya, polisi melakukan sosialisasi dan silaturahmi bersama warga Rupit guna melanjutkan  pembangunan rumah dinas yang sempat terhenti. Sementara pembangunan Mapolsek Rupit dan Mapolsek Karang Dapo belum dilaksanakan.

Camat Rupit, Firdaus kepada Musirawas Ekspres menjelaskan, pembangunan itu meneruskan pembangunan yang sebelumnya memang hendak dibangun sebelum kerusuhan yang membakar dua mapolsek. “Bukan pembangunan dari awal, namun meneruskan pembanguna  yang memang sebelum sudah dires untuk dibangun,” kata Camat.

Sementara itu Kapolres Musi Rawas AKBP Barly Ramadhany mengatakan
”Kami ingin bersilaturahmi dengan masyarakat, sekaligus pembangunanan kembali rumah dinas Mapolsek Rupit,” jela Barly Ramadhany.

Menurut Kapolres pembangunan ini dari dana APBN dan pembangunan memang sempat terhenti akibat bentrok. Pihaknya berharap pembangunan dapat berjalan lancar sehingga pelaksanaan tugas fungsi kepolisian dapat kembali berjalan dengan baik.

Terpisah Wakapolres Mura, Kompol Tulus Sinaga mengatakan, pembangunan itu untuk menjalankan fungsi-fungsi kepolisian yang ada di masyarakat. Sehingga, kejadian yang lalu diambil hikmahnya dan kedepan menjalin kebersamaan yang ada.

Pembangunan tersebut dikatakannya, bukan semata-mata polri banyak uang, sehingga bangunan yang ada hanya untuk anggota Polri sendiri melainkan pembangunan itu menggunakan uang dari rakyat juga yang berasal dari pajak.

Ia juga menambahkan, untuk Kapolsek Rupit yang baru dijabat AKP H Erdi yang sebelumnya menjabat Kapolsek Jayaloka. “Tidak perlu ada jarak antara polisi dan masyarakat. Ciptakan hubungan yang dinamis kondusif dan mengambil hikmah dari kejadian sebelumnya. Sehingga, tercipta situasi kamtibmas yang kondusif dan terjaga,” tambahnya.

Sementara itu, agar keinginan terbentuknya Kabupaten Muratara diridhoi Allah SWT, masyarakat Muratara, hari ini (Senin (20/5) siang mengadakan tabligh akbar dan istighosah di Kelurahan Muara Rupit Kecamatan Rupit. Demikian dijelaskan Sekretaris Presdium Muratara versi M Ibrahim, Amri Sudaryono, Minggu (19/5).

“Sesuai rencana, kami besok akan melakukan tabligh akbar dan istighosah, agar tujuan kami dalam pembentukan Muratara ini diridhoi Allah SWT,” kata Amri sambil menjelaskan bahwa paihaknya sangat berharap pada paripurna DPR RI akhir Mei ini Muratara disahkan sebagai Daerah Otonomi Baru.(ddp/dan)

PGRI Dituding Bisnis LKS

PGRI Dituding Bisnis LKS
*Guru Ancam Mosi tak Percaya

LUBUKLINGGAU-Sejumlah guru menuding adanya rencana PGRI Lubuklinggau membisniskan Lembar Kerja Siswa (LKS). Sebab ada kecurigaan, rencana pembuatan ini sudah ada kerjasama dengan penerbit LKS di luar Sumatera serta terkesan ada kepentingan pribadi yang menungganginya.

Hal itu setidaknya disampaikan salah seorang guru SMAN 1 Lubuklinggau, Arsad Santoso dalam rilisnya kepada Musirawas Ekspres, kemarin (18/5). “Kami menolak keras bisnis LKS oleh PGRI di sekolah, saat Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) bahwa PGRI akan membuat LKS sendiri. Dengan bekerja sama dengan salah satu penerbit tanpa ada sumber materi yang jelas dan belum tahu ada tidak korelasi dengan kurikulm baru nanti,” ungkap Arsad.

Menurut Arsad, hal itu jelas akal-akalan PGRI Lubuklinggau untuk membodohi guru namun seolah-olah kreatif. Padahal guru sudah ada MGMP sendiri yang disponsori oleh pihak disdik untuk membuat diktat dalam satu tahun

“MGMP di SMKN 2 beberapa waktu lalu terkesan hanya ‘ecek-ecek’ karena guru hanya diberikan LKS yang sudah jadi. Kemudian guru MP diminta mencari kesalahan dalam ejaan yang disempurnakan (EYD) dalam LKS dan menambah cover depan LKS dengan gambar ikon Lubuklinggau,” terangnya.
Karena itu Arsad menilai, kegiatan MGMP oleh PGRI Lubuklinggau jelas membohongi publik.  Pembuatan LKS tidak akan cukup dengan waktu satu hari tapi butuh waktu yang cukup lama

“Kami mendesak Disdik Lubuklinggau untuk memanggil PGRI dan meninjau ulang rencana tersebut. PGRI telah melakukan pembohongan publik dalam hal pendidikan yaitu pembuatan LKS pesanan penerbit. Hal ini bisa merusak tatanan pendidikan di Lubuklinggau yang sudah mulai kondusif,” ucapnya.

Dijelaskan Arsad, seharusnya guru berbuat sendiri dalam pembuatan materi mata pelajaran masing-masing yang disesuaikan dengan kemampuan anak didiknya dengan panduan MGMP dari Disdik.
Tidak hanya itu, Guru SMPN 8 Lubuklinggau Ujang Kaidin menambahkan, PGRI Lubuklinggau telah melanggar Permendiknas nomor 12 Tahun 2013 yang tanggal 15 Februari 2013. Isinya menyebutkan, petunjuk teknis penggunaan Dana Alokasi Khusus (DAK) 2013 yaitu ada 2 macam. Salah satunya adalah adanya dana khusus untuk penggandaan buku pelajaran siswa.

“Jadi berdasarkan Permendiknas tersebut, kami menganggap rencana PGRI membisniskan LKS sudah melanggar aturan pemerintah. Kami mendesak agar rencana PGRI membisniskan LKS pesanan penerbit dievaluasi lagi. Ini menyangkut kepentingan guru dan siswa,” kata Ujang Kaidin.

Bahkan Ujang Kaidin menegaskan, pihaknya akan membuat pernyataan mosi tidak percaya kepada pengurus PGRI Lubuklinggau bila rencana bisnis LKS tersebut tetap dilaksanakan. “Sebaiknya PGRI Lubuklinggau dibubarkan saja,” pungkas Ujang Kaidin.

Terpisah Ketua PGRI Lubuklinggau, Imron Willi saat dikonfirmasi Musirawas Ekspres menjelaskan, upaya pihaknya menggelar MGMP di SMKN 2 guna menghidupkan kembali budaya menulis bagi guru-guru di Lubuklinggau dengan membuat LKS. Ia menilai selama ini guru-guru di Lubuklinggau hanya bisa menuntut hak terutama sertifikasi tanpa diimbangi dengan kemampuan yang memadai.

“Tidak benar kami bekerjasama dengan penerbit telah mengkonsep LKS, kami menawarkan kepada guru agar lebih kreatif membuat materi soal. Kemampuan dan kreatifitas guru harus ditingkatkan, jangan hanya bisa menuntut dan meributkan tunjangan sertifikasi,” ucap Imron.

Imron menambahkan, selama ini guru-guru di Lubuklinggau hanya menunggu dan menerima LKS buatan pihak luar yang sudah jadi. Makanya kemampuan SDM Lubuklinggau harus ditingkatkan, salah satunya dengan lebih banyak menulis.

“Mengenai adanya asumsi kami melanggar Permendiknas nomor 12 Tahun 2013, itu anggapan guru yang salah dan tidak memahami aturan. Guru di daerah boleh membuat LKS, amanat permendiknas itu melarang membuat buku. Bukan LKS,” tegas Imron. (dkj/dan) 

Top Reader

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More