LUBUKLINGGAU-Pelayanan listrik dari PLN masih dikeluhkan oleh pelanggan, khususnya khususnya mengenai seringnya lampu padam dan lemahnya daya listrik. Bahkan keluahan itu bukan hanya terjadi di Lubuklinggau namun juga di Musi Rawas.
Seperti dikeluhkan Subhan warga Kelurahan Megang kecamatan Lubuklinggau Utara II, menyampaikan keluhannya kepada Musirawas Ekspres, Kamis (26/5). Dijelaskannya beberapa pekerjaan rumahnya seperti mencuci pakaian dan untuk mengambil air dengan menggunakan mesin air, keadaan ini menurutnya membuat beberapa pekerjaannya sering terbengkalai karena daya listrik yang rendah.
“Pada malam hari lampu sering redup, untuk menarik air melalui mesin air saja tidak sanggup. Padahal saya masih banyak kerjaan pada malam harinya karena pulang dari kerja sudah sore, terpaksa perkerjaan banyak dikerjakan pada malam hari. Demikian juga dengan pekerjaan rumah lainnya, seperti menggosok pakaian, baru bisa dilakukan pada tengah malam. Kalau masih senja lampunya redup,” katanya.
Sementara itu, Raihan yang juga warga Megang mengungkapkan hal yang sama, menurutnya, rendahnya daya listrik ini membuat dirinya harus bejaga hingga tengah malam untuk menunggu daya listrik ini kembali normal jika sudah tengah malam. “Tengah malam barulah daya listrik kembali normal. Hampir setiap malam saya menunggunya untuk mengambil air untuk memasak ataupun keperluan lainnya seperti mencuci,” ungkapnya.
Dirinya juga mengaku setiap harinya bekerja dengan jarak yang cukup jauh dari rumahnya dan pulang hingga sore hari baru sampai dirumah. Dengan demikian, kesempatannya untuk menyelesaikan pekerjaaan rumah pada malam harinya. “Kerja saya jauh, setiap hari pulang sore, kesempatan untuk mempersiapkan semua pekerjaan rumah hanya pada malam hari,” jelasnya.
Sementara itu pelanggan PLN di Kecamatan Tugumulyo dan sekitarnya listrik yang sering byar pet bukan lagi rahasia umum. Kejadian ini kerap terjadi di wilayah mereka, namun anehnya listrik tidak padam, akan tetapi dirasakan ada kekurangan daya listrik (cenat-cenut, red) yang memperparah kerusakan alat elektronik melebihi kerusakan akibat byar-pet.
“Tolong PLN dengar aspirasi kami ini, biar pejabat PLN tahu kalau saat ini kondisi listriknya Tugumulyo sedang sakit parah. Kami bilang parah, sebab hampir setiap listrik seperti tak beryawa,” ungkap Supriadi, warga Tugumulyo.
Menurut Supriadi, seringnya lemahnya daya listrik seminggu terakhir ini menyebabkan peralatan elektronik milik warga di rumah-rumah, seperti kulkas, televisi dan lainnya rusak. “Kalau sudah seperti ini, yang rugi jelas masyarakat juga. Karena itulah, melalui berita hari ini, saya dan warga lainnya mendesak agar PLN memperbaiki kinerjanya. Jangan warga kecil terus jadi korban,” katanya dengan nada keras.
Dibagian lain Supriadi meminta PLN agar bersikap fair. Artinya, jika memang kondisi mesin pembangkit yang ada sudah tidak mampu menyuplai listrik, maka sebaiknya, pemakaian listrik yang tidak efesien dikurangi. “Tapi ini tidak. Sejumlah kantor pemerintah, termasuk kantor Bupati dan gedung DPRD dibiarkan memakai listrik seenaknya. Buntutnya, warga di korbankan,” jelas Supriadi.
Bahkan, upaya maksimal yang dilakukan tidak hanya lebih mengaktifkan operasi ke daerah-daerah atau kawasan jaringan yang rawan terhadap gangguan, tapi juga dengan cara melakukan antisipasi sedini mungkin dengan memesan sejumlah peralatan mesin yang selama ini dinilai rawan rusak.
Sementara itu PLN Ranting Lubuklinggau terus mencari solusi, untuk menekan pemadaman listrik,dan berbagai keluhan terkait seringnya daya listrik lemah sehingga membuat lampu menjadi redup, PLN berupaya mengoptimalkan perbaikan berkala, seperti pemeliharaan kabel outgoing pada penyulang.
“Apa yang dilakukan ini untuk mengantisipasi gangguan pemadaman, karena adanya sambungan (konektoring) tak baik pada penyulang tersebut,’’ ujar Kepala Distribusi PT PLN Ranting Lubuklinggau Tito Alamsyah kepada Musirawas Ekspres (25/5).
Dikatakannya, pemeliharaan dengan melakukan pergantian kabel outgoing ini dilakukan rutin minimal tiga bulan sekali. “Ini rentan gangguan pemadaman disebabkan adanya konektoring pada jalur penyulang,’’ ujarnya.
Perbaikan dilakukan sebagai tindakan preventif dengan perbaikan sambungan kabel yang berkapasitas tegangan 20 KV. “Jalur penyulang merupakan jalur aliran listrik untuk wilayah Kota Lubuklingga. Adanya perbaikan ini, daerah kawasan kota terjadi pemadaman sementara, tapi pemadaman tersebut terjadi tak begitu lama,” katanya.
Selain itu, pihaknya mengoptimalkan pemasangan kWh meter di sekitar lokasi gardu induk. “Adanya perbaikan dan pemeliharaan jaringan listrik ini dapat meningkatkan pelayanan ke masyarakat, terutama pemadaman yang rentan sekali akibat gangguan listrik, kemudian untuk meningkatkan daya listrik sehingga tidak terjadi “terang redup”, ujarnya.(spd/mnr)
Musirawas Ekspres Online
27 Mei 2011
Tegangan Listrik Dikeluhkan
BLHD Bentuk Pos Pengaduan Lingkungan Hidup
MUSI RAWAS–Mempermudah upaya setiap orang atau kelompok memperjuangkan hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat serta hak untuk melakukan pengelolaan lingkungan, Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Kabupaten Musi Rawas membentuk pos pengaduan lingkungan hidup yang dipusatkan di kantor BLHD Musi Rawas.
“Berkaitan dengan hak setiap orang atas lingkungan yang baik dan sehat sebagai bagian hak azazi manusia, maka setiap orang berhak untuk berperan dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, serta setiap orang berhak melakukan pengawasan terhadap dugaan pencemaran dan kerusakan lingkungan, untuk itu BLHD Musi Rawas membentuk pos pengaduan lingkungan hidup,” kata Kepala BLHD Musi Rawas, Amrullah, ST, MM, kepada Musirawas Ekspres, Kamis (26/5).
Dikatakannya pembentukan pos pengaduan lingkungan hidup BLHD berdasarkan prinsip Undang-Undang nomor 32 tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup (UUPPLH) yang mengarah kepada tata kelola pemerintahan yang baik. Bermakna bahwa setiap langkah dan kegiatan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dilakukan dengan mengintegritaskan aspek transparansi, partisipasi akuntabilitasi serta keadilan.
Selanjutnya pembentukan pos pengaduan lingkungan hidup tersebut, kata Amrullah sudah didasari surat keputusan Bupati Musi Rawas Nomor : 276/kpts/2011. Acuan ini sebagai bentuk peningkatan pelayanan Pemerintah Kabupaten Musi Rawas kepada masyarakat dalam bidang pengelolaan lingkungan.
“Melalui pos pengaduan lingkungan hidup ini, diproyeksikan dapat terwujudnya wadah untuk menampung berbagai pengaduan masyarakat terhadap kasus dampak lingkungan dan diharapkan dapat terwujudnya penanganan pengaduan secara objektif, netral dan cepat,” terang Amrullah.
Dengan telah dibentuknya pos pengaduan lingkungan hidup tersebut, lanjut Amrullah diharapkan kepada masyarakat jika mengetahui adanya dugaan pencemaran terhadap lingkungan hidup agar dapat melaporkan kepada Bupati Musi Rawas melalui Badan Lingkungan Hidup Daerah Musi Rawas sehingga diharapkan dugaan pencemaran dapat dilakukan penanganan secara cepat.
“Diharapkan pengaduan tentang lingkungan hidup tersebut dapat dilakukan secara langsung ke BLHD, kita sudah menyiapkan ruangan khusus dengan fasilitas pendukung guna kenyamanan pembahasan tentang dugaan dampak lingkungan,” pungkasnya. (rix)
KELAKAR
Kepsek Empat sekawan kembali berkelakar. Kali ini mereka berkelakar di tempat yang berbeda dengan tema kepala sekolah. “Lop, nga la tau lum, ade gossip seru ni,” Mang Ujang buka suaro. “Gosip apo dio kau Jang,” jawab Kulop. “Yo, kini ko dak untuk jadi kepala sekolah sulit nian,” tanyo Kuyung. “Bagus la mak itu, jangan cak selamo ini kalau besak setoran itu yang akan jabat sebagai kepala sekolah,” ujar Wak Yenk. “Emangnyo sulit mano Lop,” Tanya Mang Ujang. “ Yo, para calon kepala sekolah tu harus mengikuti ujian tigo tahap,” terang Kulop lagi. “Tapi nak makmano be pasti ado be deal-deal,” jawab Mang Ujang. “Tapi sulit La Jang, kan dari ujian tahap pertamo kito la tahu yang pintar dan yang wajar jadi kepala sekolah,” terang Wak Yenk. “Jelas adolah, bukti e, aku dapat isu setelah mengikuti tes wawancara mereka akn diamanati oleh pengamat pendidikan, nah kalau dak tek deal-deal dak mungkin lah, ado pulo diamat-amat, cak kebun bae,” jawab Kuyung. “Demlah ah, nguruskan wong bae,” ujar Wak Yenk. (Lia)
