RAWAS ILIR–Biota ikan Sungai Rawas setiap tahunnya terus berkurang dan terancam punah. Pasalnya kegiatan penyetruman ikan di Kecamatan Rawas Ilir dan Karang Dapo di aliran Sungai Rawas terus terjadi. Kondisi ini sangat dikhawatirkan sebagian besar warga di dua kecamatan itu lantaran kelangsungan biota sungai besar di wilayah Musi Rawas Utara tersebut bakal tidak akan dinikmati generasi selanjutnya.
“Kegiatan yang sudah berlangsung sejak tiga tahun terakhir ini tidak hanya terjadi Kecamatan Karang Dapo, kegiatan yang mampu merusak biota air Sungai Rawas tersebut kini marak dilakukan di Rawas Ilir. Bahkan kegiatan ini makin menjadi-jadi tanpa ada pihak yang mampu mencegah,” ungkap Andi (28) warga Kecamatan Rawas Ilir kepada koran ini. Andi mengungkapkan aksi penyentruman ikan dalam jumlah besar-besaran sering terjadi di beberapa titik. Salah satunya Desa Pauh, dipastikan dari beberapa jenis ikan yang hidup di aliran sungai Rawas saat ini sulit untu ditemukan, hal ini diyakini telah mengalami kepunahan.
“Kondisi ini sangat meresahkan warga sebab sungai merupakan salah satu mata pencaharian warga yakni untuk mencari ikan. Maraknya aksi penyentruman ini harus cepat direspon pemerintah dan pihak terkait sebab akan mengancam biota ikan sungai Rawas ke depan,” katanya.
Selain merugikan warga, lanjut Andi penyentruman juga merugikan warga yang bermata pencaharian sebagai nelayan, bahkan membahayakan masyarakat yang beraktivitas di sungai. Jika kondisi terus dibiarkan maka tidak sedikit nelayan yang akan kehilangan pekerjaan.
“Jika terus disentrum ikan sungai akan habis termasuk ikan kecil-kecil, akibatnya biota air sungai lambat laun akan musnah. Jika penangkapan ikan dilakukan secara tradisional kemungkinan besar keberadaan ikan Sungai Rawas terus berkelanjutan hingga anak cucu, kita harap warga yang sering melakukan penyentruman segera menyadari rosiko yang bakal dihadapi di masa-masa mendatang,” terangnya.
Dinformasikannya saat ini sudah ada peternakan ikan di sungai dengan menggunakan keramba yang dapat meningkatkan penghasilan masyarakat namun sangat di sayangkan minimnya pembinaan yang di lakukan dinas Peternakan dan perikanan sehingga perkembangan peternakan ikan dengan kramba ini belum berkembang secara maksimal.
Untuk itu diharapkannya kepada pemerintah daerah dapat membantu masyaraktat untuk lebih mengembangkan peternakan ikan dengan mengunakan keramba. Ini dilakukan agar setiap desa yang ada di pinggiran sungai dapat memanfaatkan sungai dengan beternak ikan melalui keramba dan tentunya dapat menjaga kawasan sungai.(ME-06)
01 Juli 2010
Ikan Sungai Rawas Terancam Punah
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)
KELAKAR
Kepsek Empat sekawan kembali berkelakar. Kali ini mereka berkelakar di tempat yang berbeda dengan tema kepala sekolah. “Lop, nga la tau lum, ade gossip seru ni,” Mang Ujang buka suaro. “Gosip apo dio kau Jang,” jawab Kulop. “Yo, kini ko dak untuk jadi kepala sekolah sulit nian,” tanyo Kuyung. “Bagus la mak itu, jangan cak selamo ini kalau besak setoran itu yang akan jabat sebagai kepala sekolah,” ujar Wak Yenk. “Emangnyo sulit mano Lop,” Tanya Mang Ujang. “ Yo, para calon kepala sekolah tu harus mengikuti ujian tigo tahap,” terang Kulop lagi. “Tapi nak makmano be pasti ado be deal-deal,” jawab Mang Ujang. “Tapi sulit La Jang, kan dari ujian tahap pertamo kito la tahu yang pintar dan yang wajar jadi kepala sekolah,” terang Wak Yenk. “Jelas adolah, bukti e, aku dapat isu setelah mengikuti tes wawancara mereka akn diamanati oleh pengamat pendidikan, nah kalau dak tek deal-deal dak mungkin lah, ado pulo diamat-amat, cak kebun bae,” jawab Kuyung. “Demlah ah, nguruskan wong bae,” ujar Wak Yenk. (Lia)

0 komentar:
Poskan Komentar