EDISI CETAK

Dapatkan informasi terkini di koran harian Musirawas Ekspres (Mureks), media terbesar dan tersebar di setiap pelosok Musi Rawas. Untuk berlangganan dan Pemasangan Iklan, hubungi (0733) 452552.

BALIHO MURATARA

Baliho selamat datang di Muratara yang terpasang di Desa Rantau Jaya Kecamatan Karang Jaya. Muratara diharapkan terbentuk pada sidang paripurna DPR RI Mei hingga Juni 2013

BELUM MAU TERIMA POLISI

Aksi demo yang diwarnai bentrok masyarakat Muratara dengan pihak kepolisian pada Senin (29/4) malam membuat warga sempat beberapa hari pasca bentrok tidak mau menerima kehadiran polisi

ANCAM TUNTUT PEMERINTAH

Ketua Presidium Muratara Muhammad Ibrahim menegaskan, pihaknya akan menuntut pemerintah jika Muratara tidak dimekarkan menjadi Daerah Otonom Baru (DOB). Hal ini ditegaskannya kepada wartawan usai melakukan pertemuan dengan Anggota Komisi III DPR RI Ahmad Yani,(10/5).

Musirawas Ekspres Berikan Bantuan Korban Kerusuhan Muratara

Direktur PT Musirawas Media, Solihin didampingi Camat Muara Rupit, Firdaus dan GM Musirawas Ekspres, Panca Riatno serta Pimred Musirawas Ekspres, Endang Kusmadi menyerahkan bantuan ke keluarga Alm Rinto Arianto.


28 Oktober 2008

Lubuklinggau Belum Punyai Dokter Spesialis

LUBUKLINGGAU-Hingga saat ini Kota Lubuklinggau masih kekurangan tenaga dokter spesialis, untuk memenuhi pelayanan kesehatan masyarakat Sebiduk Semare. Kekurangan itu menyebabkan sebagian warga terpaksa mendatangi rumah sakit di Palembang dan Bengkulu untuk mengobati penyakitnya. 

Seperti diungkapkan Kepala Dinas Kesehatan Kota Lubuklinggau Hj Desilina Tjaja SKM, kepada Musirawas Ekspres, Senin (276/10) di kantor Diklat Lubuklinggau. Menurutnya dari 2.500 penduduk Sebiduk Semare seharusnya memiliki satu dokter spesialis. Tapi kenyataan dilapangan, pihaknya kesulitan mendatangkan dokter spesialis yang mau menerapkan ilmunya di Kota Lubuklinggau. 

“Saat ini kita sangat membutuhkan dokter spesialis bedah, anak, kandungan dan penyalit dalam. Tapi kendalanya selama ini, kita belum bisa memasilitasi dengan baik dokter spesialis dengan baik, karena berkait dana yang minim,” ujarnya.  

Bagaimana dengan dokter umum? Desi mengungkapkan untuk dokter umum juga saat ini masih kekurangan, makanya diperlukan penambahan lagi. Sebab, hingga saat ini pihaknya baru memiliki delapan orang dokter umum yang harus melayani 200 ribu lebih penduduk Kota Lubuklinggau. “Ke depan kita akan mengupayakan adanya dokter umum yang praktek disini,” katanya.

Ditambahkannya untuk mencukupi kebutuhan tenaga dokter spesialis, rencananya dinkes bakal menyekolahkan dokter umum yang ada. “Mungkin setelah APBD 2009 nanti, karena saat ini kita belum memerogramkkannya. Tapi Insya Allah itu akan segera kami selenggarakan,” pungkasnya. (ME-02) 

9 Batu Megalit Bukit Botak akan Diteliti

Sebagai Potensi Pariwisata 

MUSI RAWAS – Penggalian terhadap benda bersejarah yang di temukan di Kabupaten Musi Rawas akan dilakukan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Musi Rawas. Pastinya dalam waktu dekat sembilan kumpulan batu besar yang ada di kawasan Bukit Botak di Kecamatan STL ULU Terawas akan diteliti dan ditelusuri sebagai langkah pengembangan Agrowisata. 

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Musi Rawas, Dra Hj Retno Trapsilowati, melalui Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan, Hamam Santoso, membenarkan rencana penelitian terhadap sembilan batu tersebut. ”Dalam waktu dekat kita akan meneliti peninggalan sejarah sembilan batu di bukit botak, hasil dari penelitian ini nantinya akan diserahkan ke Balai Arkeologi Provinsi Jambi,” ungkap Hamam.

 Dilanjutkan Hamam, salah satu penelitian objek wisata tersebut untuk mengetahui sejarah lebih dalam mengenai keberadaan batu. “Tujuannya untuk mengetahui zaman munculnya batu, pernah dipergunakan suku mana dan untuk apa, serta apa kegunaannya. Kemudian apakah keberadaan batu muncul dengan sendirinya atau diletakkan oleh tangan manusia, cepat atau lambat kita akan mengetahui kisah dari sembilan batu bukit botak tersebut,” katanya.

Dilanjutnya Hamam, penelitian tersebut bermaksud untuk segera mengembangkan potensi aset wisata artinya Disbubpar Musi Rawas akan segera mengembangkan potensi alam yang ada, termasuk aset wisata yang belum diketahui oleh masyarakat kabuaten Mura. 

“Kalau kita sudah mengetahui dengan jelas kisah dari sembilan batu bukit botak tersebut akan dilanjutkan dengan penetapan sebagai agro wisata nantinya serta sangat baik jka kisah sembilan batu di bukit botak dibudayakan,” jelasnya.

 Selain melakukan penelitian terhadap sembilan batu di kawasan bukir botak, lanjut Hamam pihaknya akan terus menggali aset wisata alam yang ada di Musi Rawas sebagai aset wisata unggulan dan upaya ini akan terbukti jika Kabupaten Musi Rawas memiliki potensi wisata alam bahkan mempunyai kisah arkeologi unik.

“ Yang jelas kita berharap nantinya kawasan bukit botak akan menjadi kawasan wisata alam andalan, mengenai penelitian sendiri akan diserahkan ke Balai Arkelogi Provinsi Jambi,” tukasnya. (ME04)

Edy-Ali Divonis 14 Bulan Penjara

Kedua Terpidana Banding

LUBUKLINGGAU-Setelah melewati beberapa kali proses persidangan, akhirnya Senin (27/10) sekitar pukul 12.30 WIB, dua oknum LSM Edi Supriyanto alias Edy Gondrong (30) warga Jl Mengkudu No. 82 RT. 4 Kelurahan Taba Jemekeh, Kecamatan Lubuklinggau Timur I dan rekannya Ali Permana (46) warga Jl Pesantren Mazro'illah, Kelurahan Marga Mulya, Kecamatan Lubuklinggau Selatan II, divonis majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Lubuklinggau hukuman selama satu tahun dua bulan penjara. 

Tidak itu saja kedua terpidana dikenai hukuman denda sebesar Rp 150 juta subsidaer masing-masing dua bulan kurungan. Karena telah terbukti bersalah melanggar pasal Pasal 78 (7) UU No. 41 tahun 99 tentang Kehutanan dan Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

Vonis majelis hakim lebih ringan Tiga tahun Sepuluh bulan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) M Yunus, SH yang sebelumnya menuntut kedua terdakwa dengan hukuman selama Empat tahun enam penjara.

Atas keputusan majelis hakim tersebut kedua terpidana yang didampingi penasehat hukum,Gabriel H Fuady, SH langsung menyatakan banding. Begitu juga dengan JPU M Yunus, SH mengatakan hal yang sama.

Sementara itu, berdasarkan putusan majelis hakim tersebut kedua mobil truck yang digunakan mengangkut kayu berikut kayu serta satu unit mobil Taft BG 1418 HA dirampas oleh Negara.

 "Setelah mendengarkan keterangan saksi-saksi dan pengakuan kedua terpidana dipersidangan, maka majelis hakim berkeyakinan keduanya terbukti bersalah melakukan tindak pidana mengangkut kayu tidak dilengkapi Surat Keterangan Sahnya Hasil Hutan (SKSHH), Faktur Angkutan Kayu Olahan (FAKO) dan Surat Keterangan Asal Usul Kayu (SKAU), Untuk itu atas perbuatannya kedua terpidana dijatuhi hukuman Satu tahun Dua bulan penjara,"ujar majelis hakim ketua Arman S Saputra SH didampingi hakim anggota Intan Komalasari SH dan Juliarta SH dengan Panitera Pengganti (PP) Harmen SH.

Sebagai pertimbangan hakim hal yang memberatkan perbuatan kedua terpidana bertentangan dengan program pemerintah untuk memberantas illegal logging. Dan hal yang meringankan kedua terpidana belum pernah dihukum, sopan dipersidangan dan mengakui perbuatannya. 

Sebagaimana diketahui perbuatan kedua terpidana yang mengharuskan menjadi warga binaan Lapas lubuklinggau terjadi elasa (24/6) sekitar pukul 01.30 WIB di Desa Sumber Karya, Kecamatan STL Ulu Terawas, keduanya telah mengangkut, menguasai atau memiliki hasil hutan berupa 268 batang kayu dengan cara mengawal menggunakan mobil Taft BG 1418 HA.

Kemudian rincian kayu yang dikawal, dimuat dalam truk BG 8127 H dikemudikan Redi Saputra Ani mengangkut sebanyak 125 batang atau 5,2152 M kubik, dan Truk BG 8202 G mengangkut sebanyak 143 Batang yang dikemudikan M Jahim dengan tujuan Desa G1 Mataram, Kecamatan Tugu Mulyo. 

Pada saat beriringan kedua truk yang dikawal oleh terpidana Ali Permana dan Edi Gondrong, dihentikan oleh petugas yang kebetulan patroli, setelah diperiksa ternyata truk yang mengangkut kayu tersebut tidak dilengkapi Surat Keterangan Sahnya Hasil Hutan (SKSHH), Faktur Angkutan Kayu Olahan (FAKO) dan Surat Keterangan Asal Usul Kayu (SKAU), makanya langsung digelandang ke Polres Musirawas.(CW-01) 

Mr X Ditemukan Dengan Kepala Penuh Ulat

KARANG JAYA- Warga Desa Bukit Ulu kecamatan Karang Jaya Minggu (26/10) sekitar pukul 21.00 WIB di geger. Pasalnya kepala desa (Kades) menemukan remaja berusia sekitar 15 tahun tanpa identitas (Mr X) dengan kondisi luka dikepala yang sudah dipenuhi ulat. 

Mr X ditemukan sedang duduk disamping SDN Desa Bukit Ulu, Kecamatan Karang Jaya. Karena luka sudah berulat, Mr X tadi langsung dibawa ke IGD RS dr Sobirin Musi Rawas (Mura) untuk mendapatkan pertolongan medis. Sekedar memberitahu, ciri-ciri Mr x , kulit sawo matang, rambut lurus, memakai kain sarung warna kotak-kotak merah. Setelah diobati Mr x tadi akan diserahkan ke Dinas Sosial Mura.  

Kapolres Mura AKBP Herry Nixon's Sik melalui Kapolsek Karang Jaya AKP Tony Siagian didampingi Kanit Reskrim Bripka Rofik.M kepada Musirawas Ekspres mengatakan pertama kali menemukan Mr x tersebut Kades Bukit Ulu Rusdi yang kebetulan lewat melihat Mr x sedang duduk disamping SDN Desa Bukit Ulu Kecamatan Karang Jaya.

Pada saat didekati kata Rofik, Rusdi mencium bau yang menyengat, dengan posisi tangan Mr X menutupi luka dibagian kepala.

Setelah diperhatikan ternyata dikepala bagian belakang Mr x sudah dipenuhi dengan ulat belatung. Ketika ditanya Mr x tidak menjawab, dan setiap kali didekati selalu lari. Rusdi yang selaku Kades saat itu juga melaporkan penemuan Mr x ke Polsek Karang Jaya.

Sekitar pukul 22.00 WIB anggota Polsek Karang Jaya dibantu warga setempat berusaha mencari Mr x. Setelah dilakukan pencarian Mr x berhasil ditemukan bersembunyi dibelakang rumah warga sambil merintih mengeluarkan kata-kata "UMAK UBAT LUKO KU" (ibu obati lukaku). 

Dengan dibantu petugas Puskesmas Karang Jaya Mr X tadi dilarikan ke RS Dr Sobirin Mura untuk mendapatkan pertolongan medis. Menurut informasi Mr X itu dari Selangit dan mengatakan kalau orang tua dari anak tersebut bernama Safarudin. (CW-01) 

27 Oktober 2008

Puting Beliung Hantam 61 Rumah Warga Air Satan

MUARA BELITI–Bencana Angin Putting Beliung yang terjadi Sabtu (25/10) sekitar Pukul 18.00 WIB di Desa Air Satan Kecamatan Muara Beliti ternyata cukup dasyat. Buktinya 61 rumah warga Desa Air Satan rusak akibat terjangan puting beling tersebut. Tidak hanya itu beberapa rumah sama sekali tidak bisa ditempati sehingga ada warga yang terpaksa mendiami tempat tinggal sementara yang mereka bangun secara darurat. 

Kepala Desa (Kades) Air Satan, Ghufron kepada Musirawas Ekspres mengatakan, akibat bencana puting beliung 2 rumah warga mengalami kerusakan total dan tidak dapat ditempati, 49 rumah dikategorikan rusak berat, dan 10 rumah rusak ringan. 

“Sebagian besar hanya mengalami kerusakan pada atap rumah, namun warga sudah memperbaiki rumahnya masing-masing. Yang jelas Almahdulillah tidak ada korban jiwa dalam bencana puting beliung ini,” kata Ghufron. 

Dilanjutkannya, keruskan yang ditimbulkan angin puting beliung selama kurang lebih 15 menit tersebut cukup dahsyat. Bukan hanya rumah, sedikitnya empat tiang listrik dan 150 pohon ukuran besar roboh serta empat tiang listrik lagi dalam posisi condong. 

“Yang pasti atap seng rumah warga banyak yang berterbangan, bahkan pelet (makanan, red) ikan seberat 7 pikul sempat terangkat naik dan terlempar sejauh 3 meter,” kata Ghufron. Dilanjutkannya, hingga pendataan kemarin, kerugian yang dialami akibat Puting Beliung berkisar ratusan juta rupiah. 

 “Sekitar ratusan juta rupiah kerugian yang diderita. Masih beruntung saat kejadian suasana masih sore, sehingga warga masih sempat berlindung saat angin menyerang,” terangnya. Kata Ghufron, hingga kemarin (Minggu, 26/10) Pemkab Mura melalui Dinas Sosial telah menyalurkan bantuan berupa 30 karung beras, 5 dus sambal botol, 5 dus Sarden, 5 dus kecap, dan 4 buah terpal. 

“Dinas Sosial telah menurunkan tim Taruna Penaggulangan Bencana (Tagana) di lokasi untuk membantu warga,” ungkap Ghufron. Ditambahkannya, pasca Angin Puting Beliung, beberepa sarana dan prasarana desa telah diperbaiki termasuk tiang listrik yang roboh. Dimana PT PLN Ranting Lubukinggau telah memperbaiki empat tiang lisrtik yang roboh dan akan mengganti kabel baru sepanjang 900 meter. 

“Menurut keterangan pihak PLN Ranting Lubuklinggau, Serajudin, perbaikan penerangan listrik akan selesai selama tiga hari. Artinya tempo tiga hari listrik sudah bisa diperbaiki,” tukasnya. Diakui Gufron listrik merupakan sarana penting Desa Air Satan, untuk itu warga mengharapkan kepada PT PLN dapat memperbaiki secepatnya. “Yang paling diutamakan adanya perbaikan penerangan listrik karena warga sangat membutuhkan listrik,” kata Ghufron dan menambahkan, Pemkab Mura melalui Kesbangpolinmas, Dinas Sosial, dan Camat Beliti telah memantau langsung kondisi pasca bencana.

Sementara itu, Camat Muara Beliti, Kgs Effendi Ferry SSTP M.Si mengharapkan kepada Pemkab Mura untuk segera mengambil langkah menyikapi terjadinya bencana tersebut. “ Kerusakan yang dialami tidak terlalu parah, diharapkan diutamakan perbaikan listrik,” pungkasnya. (ME04)

Korban Angin Puting Belingi di Air Satan

1. 2 Rumah Rusak Total
2. 49 Rumah Rusak Berat 
3. 10 Rumah Rusak Ringan
4. 4 Tiang Listrik Roboh
5. 150 Pohon Roboh
6. 4 Tiang Listrik Condong

Amankan Kayu, 3 Anggota Polhut Diserang Warga



Mobil Dirusak, Senjata FN.1.A1 Dirampas

LUBUKLINGGAU-Puluhan warga Ulu Malus Kelurahan Petanang Ulu Kecamatan Lubuklinggau Utara I menyerang tiga anggota polisi hutan (Polhut) Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS) wilayah Sumbagsel Irva, Asep dan Ramdani. Penyerangan itu terjadi ketika ketiga anggota Polhut akan mengamankan kayu temuan di dekat Jembatan Sungai Malus, yang diduga milik Sida warga setempat.

Akibat Penyerangan itu ketiganya mengalami luka. Tidak hanya itu senjata sandang jenis FN.1.A1 isi megazine 20 butir kaliber 9 mm produk Pindad dirampas warga. Tidak sampai di situ, mobil dinas jenis pick up rusak parah akibat dilempari batu oleh warga yang sudah kalap. Untungnya, setelah anggota Polres Lubuklinggau diturunkan menghalau warga Ulu Malus setelah kejadian, senjata berhasil diamankan termasuk mobil yang rusak parah sudah dibawa ke Mapolres Lubuklinggau.

Kapolres Lubuklinggau, AKBP Yohannes Soeharmanto SH.SIK melalui Kasat Reskrim, AKP Edwartu, kepada Musirawas Ekspres, mengungkapkan penyerangan warga terhadap anggota Polhut tersebut terjadi Sabtu ( 25/10) sekitar pukul 12.00 WIB. Berawal ketika itu Irvan bersama kedua rekannya mendapat laporan masyarakat kalau di wilayah kawasan hutan TNKS ada masyarakat yang mengangkut kayu.

Atas laporan tersebut kemudian mereka bergegas ke TKP menggunakan Mobil dinas untuk menyelidiki dan mengamankan kayu-kayu tersebut. Sesampainya di kawasan hutan Dusun Ulu Malus ternyata benar, ada 59 kayu balok ukuran 7x13 cm dengan panjang 3 meter siap angkut. Kayu tersebut diduga milik seorang warga setempat bernama Sida.

Ketika anggota Polhut ingin mencari tahu keberadaan kayu dan mengamankannya, terjadi adu mulut dilanjutkan dengan baku hantam. Warga yang berjumlah sekitar 30 orang mengepung tiga aparat. Akibatnya dalam insiden tersebut irvan mengalami luka robek di kepala akibat terkena hantaman batu dari warga. Asep dan Ramdani juga terkena lemparan batu dan serangan warga.

Sedangkan dari pihak warga, Abdullah tertembak di kaki kiri. Selain itu warga juga merampas sentaja milik aparat Polhut tersebut. Setelah ketiganya berhasil menyelamatkan diri dari serangan warga kemudian melapor ke Polres Lubuklinggau.

Mendapat laporan tersebut dengan cepat satu pleton anggota Polres Lubuklinggau segera turun ke lapangan dipimpin langsung Wakapolres, Kompol Sonny MBA SIK, Kapolsek Lubuklinggau Utara, Iptu Ikromi dan Kasat Reskrim, AKP Edwartu. Di TKP anggota berhasil menemukan senjata sandang jenis FN.1.A1 isi 20 butir aklaiber 9 mm milik anggota Polhut yang dirampas. Namun warga yang diduga melakukan perampasan sudah melarikan diri dari rumahnya saat penggerebekan.

Sementara Ir Donal Hutasoid ME, Kepala TNKS Sumsel dan Bengkulu bidang III, menyampaikan terimakasih atas kerjasama aparat kepolisian menindaklanjuti kejadian yang menimpa ketiga anggotanya. Selain itu pihaknya menyayangkan insiden ini bisa terjadi. Jika memang pihaknya dianggap bersalah mereka siap diproses sesuai jalur hukum dan sebaliknya terhadap warga juga khususnya yang nelakukan penyerangan.

“Tetapi yang tepenting senjata yang dirampas warga sudah dapat diamankan sehingga tidak disalahgunakan paska bentrok anggota TNKS dengan Warga,” katanya. (CW-03) 

Sumber Api Masih Misteri

LUBUKLINGGAU-Hingga Minggu (26/10) pihak Polres Lubuklinggau belum bisa memastikan sumber api yang membakar Pasar Inpres. Pasalnya penyidik masih menunggu hasil dari Labotarorium Forensik (Labfor) Polda Sumsel. Hal ini dijelaskan Kapolres Lubuklinggau, AKBP Yohannes Soeharmanto saat dihubungi Musirawas Ekspres melalui poselnya, kemarin. 

 “Besok (hari ini, Senin 28/10) mereka baru akan memeriksa sejumlah bukti-bukti yang dibawa. Kemungkinan besar, minggu depan kita baru mengetahui hasilnya,” ujar Yohannes.

Ditambahkan Kapolres ia juga tidak mau menduga-duga penyebab terjadinya kebakaran sebelum adanya hasil pemeriksaan tim Labfor Polda Sumsel. “Saya tidak berani mengatakan dugaan penyebab kebakaran. Lebih baik kita menunggu hasil pemeriksaan dari pihak yang lebih berkompeten,” pungkasnya. 

Terpisah berkaitan dengan kebakaran ini, anggota Komisi II DPRD Kota Lubuklinggau, HA Haris Elmi SE, menjelaskan pihaknya baru akan melakukan rapat koordinasi internal guna membahas langkah kongkrit yang bakal dilaksanakan kepada pedagang. 

 “Besok, (hari ini), kita akan mengadakan rapat koordiansi internal Komisi II. sesudah itu, barulah kita akan mengundang dinas terkait guna membahas langkah yang akan dilaksanakan kepada para pedagang,” pungkasnya.

Politisi dari PKS ini juga berharap kepada Pemkot Lubuklinggau supaya segera memberikan bantuannya kepada pedagang yang tertimpa musibah. “Meski jumlahnya tidak begitu besar, paling tidak dapat meringankan beban yang mereka rasakan,” katanya.  

Sementara itu pantauan Musirawas Ekspres di lokasi kebakaran, puing-puing kebakaran yang sebelumnya berserakan di mana-mana, kini sudah dibersihkan dan ditumpuk menjadi satu. Dan tumpukan puing sisa kebakaran menggunung di depan Mushola Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Pengelolaan Pasar Lubuklinggau.

Beberapa pedagang yang petaknya terbakar, sudah mulai membangun petak baru. Menggunakan papan, kayu dan bahan-bahan lainnya, mereka mulai membangun tempat berjualan yang layak seperti sebelumnya. Bukan hanya di bawah, pedagang yang berjualan di atas juga mulai membenahi tempatnya.

Berkaitan dengan kebakaran ini, pedagang juga mendesak Pemkot Lubuklinggau peduli terhadap nasib mereka. Sebab, hingga kini belum ada bantuan sepesepun yang mereka terima. “Boro-boro mau jualan lagi, pinjaman koperasi pun belum saya kembalikan,” ujar Ning, Pedagang Pakaian BJ. 

Dirinya mengaku kerugian yang dideritanya mencapai puluhan juta rupiah. “Jangan dikira modal jualan pakian BJ sedikit, oleh karena itu saya kebingungan untuk mencari modal berjualan lagi,” ungkapnya. 

Dirinya bersama pedagang lain, meminta kepada pemerintah setempat peduli terhadap nasib mereka, jangan sampai terkesan menutup mata dan membiarkan musibah yang menimpa pedagang. “Biarpun jumlahnya sedikit, tapi paling tidak ada perhatian dari pemerintah,” pungkasnya. (ME-03) 

BKN Belum Tetapkan 7 Nama Pengganti CPNSD 2008

Kahfi : Tes Jalur Umum Masih Samar

MUSI RAWAS-153 honorer Pemkab Musi Rawas (Mura) yang telah ditetapkan lulus menjadi CPNSD formasi 2008 masih harus menunggu kepastian apakah bisa benar-benar menjadi PNS atau tidak. Pasalnya mereka masih menunggu NIP (Nomor Induk Pegawai) diterbitkan BKN (Badan Kepegawaian Negara). 

Menurut Sekretaris Badan Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan (BKPP) Kabupaten Mura, Kahfi S.Sos jika semuanya mendapatkan NIP baru bisa dilantik menjadi CPNSD Mura. “Nah sejauh ini kita masih menunggu BKN menerbitkan NIP. Yang pasti berkas 153 honorer yang dinyatakan lulus menjadi CPNSD Mura formasi 2008 sudah kita sampaikan. Dan melihat pengalaman sebelumnya, untuk berkas yang kita sampaikan sudah kita upayakan selengkap mungkin,” tegas Kahfi.

Ini dilakukan agar tidak ada berkas dikembalikan BKN dengan alasan tidak lengkap dimana hal semacam inilah yang mengakibatkan lambatnya penerbitan NIP. “Makanya sejak kita umumkan bagi yang lulus langsung kita arahkan untuk melengkapi berkas. Selanjutnya langsung kita verifikasi dan jika ada berkas yang kurang atau salah langsung kita sampaikan kepada yang bersangkutan untuk dilengkapi. Dan setelah kita anggap benar-benar lengkap, berkas-berkas tersebut kita sampaikan ke BKN. Selanjutnya tinggal menunggu lagi kapan NIP diterbitkan,” tukasnya. 

Selanjutnya mengenai berkurangnya CPNSD Mura formasi 2008 akibat tujuh nama bermasalah, BKPP Mura menurut Kahfi sudah mengambil langkah cepat. Yakni dengan menyampaikan pengajuan kepada BKN agar kembali menerbitkan atau menetapkan tujuh honorer menjadi CPNSD sebagai penggantinya. “Namun sejauh ini kita belum mendapatkan konfirmasi dari BKN apakah mereka menyetujui menetapkan tujuh nama pengganti atau tidak.

Mudah-mudahan seperti sebelumnya ada nama CPNSD pengganti. Dengan demikian akan mengurangi jumlah honorer Pemkab Mura yang belum lulus dan bisa memastikan 2009 mendatang seluruh honorer yang ada di database lulus menjadi CPNSD,” ungkap Kahfi. 

Mengenai tes CPNSD jalur umum untuk menetepkan 336 CPNSD Kahfi juga mengaku belum bisa memberitahukan kapan pelaksanaanya. “Sebab memang sejauh ini belum ada kepastian dari BKN. Dan ini berlaku bagi seluruh daerah di Indonesia bukan hanya Kabupaten Mura. Jadi istilahnya tes jalur umum masih samar, pokoknya kita tunggu saja,” katanya.  

Sebagaimana diinformasikan sebelumnya, berkas CPNSD yang disampaikan ke BKN untuk memproses penerbitan NIP hanya 153 berkas. Untuk tujuh berkas tidak disampaikan karena bermasalah dimana dari tujuh nama yang berkasnya tidak dikirimkan karena ada yang telah dipecat karena melakukan pelanggaran disiplin, satu orang sudah tercatat sebagai PNS, tiga honorer yang ternyata tercatat sebagai pegawai PDAM dan ada dua orang lagi tidak diketahui kejelasannya. Untuk tujuh nama yang batal itu Pemkab Mura mengusulkan penggantinya kepada BKN. (ME-01) 

Petani di Rupit ‘Mogok’ Menyadap Karet

Harga Karet Rp 2.500/Kg, Petani Alih Profesi

RUPIT–Rendahnya harga karet dan sawit di Kecamatan Rupit mengakibatkan sebagian petani karet enggan atau istilahnya mogok menyadap karet. Alasannya harga jual karet tidak sebanding dengan harga beras saat ini. Tidak hanya mogok, sebagian dari mereka (petani, red) untuk sementara terpaksa beralih profesi. 

Salah seorang petani karet di Kelurahan Rupit, Kecamatan Rupit, Saf kepada Musirawas Ekspres mengatakan penghasilan mereka sejak satu bulan terakhir turun drastis lantaran harga karet saat ini anjlok hingga Rp 2.500/kg.

“Dipastikan hampir sebagian penyadap karet di Rupit enggan untuk berangkat ke kebun, sebab selisih harga selama ini cukup jauh, sehingga ada sebagian penyadap karet memilih beralih profesi dan pulang ke kampung,” terang Saf.

Dikatakan Saf, perbandingannya harga beras saat ini berkisar Rp 6.500/kg, jauh lebih mahal dari harga karet. Kondisi ini sangat mengkhawatirkan kalangan petani karet, sebab sebagaian petani merupakan penyadap upahan artinya mereka harus membagi dua hasil dengan pemilik lahan.

“Dengan harga karet seperti saat ini banyak penyadap karet yang terkejut. Artinya selama ini harga karet terbilang tinggi sehingga petani berani membayar kredit barang hingga jutaan rupiah per bulan. Namun saat ini petani kewalahan harus menutupi biaya kredit barang mereka lantaaran hasil yang didapatkan dari menjual karet saat ini tidak mencukupi,” kata Saf.

Akibat dari kondisi ini, diakui Saf, tingkat kriminalitas satu bulan terakhir di Kecamatan Rupit meningkat. Terbukti dalam satu Minggu terjadi empat hingga lima kali penodongan sepeda motor.

“Jelasnya saya tidak tahu, tetapi sejak karet murah, penodongan sepeda motor di Rupit dalam satu minggunya hampir tidak berkelang. Tingginya angka kriminalitas ini jelas disebabkan musim paceklik saat ini,” ungkapnya.

Dilanjutkan Saf, saat ini banyak petani karet lebih memilih untuk tidak menyadap karet sembari mencari pekerjaan baru yang dapat menghasilkan uang, mengimbangi harga beras.

“Petani karet sudah malas untuk menyadap karet, mereka lebih memilih berdiam diri sembari mencari pekerjaan baru. Diharapkan kepada pihak terkait agar secara serius menyikapi kondisi ini, khususnya terhadap keamanan masyarakat sebab warga khawatir akan mengalami tindak kriminalitas pada mereka di saat krisis saat ini,”pungkasnya.

Sebelumnya Kepala Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat Kabupaten Mura, H Zainal Arifi AS S.Sos menginformasikan hal serupa. Bahkan untuk beberapa desa di Kecamatan Muara Rupit harga karet benar-benar najlok hingga Rp 2.000 /kg. Kondisi ini sudah berlangsung cukup lama dan suah mulai berdampak terhadap masyarakat setempat. (ME04)

Start Buruk Persimura

MUSI RAWAS-Perjuangan Persimura U-18 untuk menapak jalan menuju gelar juara Liga Remaja Piala Suratin 2008 makin berat. Ini tidak lain akibat start buruk yang ditunjukkan tim besutan trio pelatih M Romli TJ, Joko Sutrisno dan Andre Rasman Minggu (26/10).

Pertandingan perdana melawan tuan rumah Persikasi, Bekasi, Nucky Cs dikalahkan tiga gol tanpa balas. Walaupun kalah, peluang tetap terbuka dan yang terpenting penampilan superior pemain Persimura berhasil memikat ratusan penonton yang memadati Stadion Purnawarman, Purwakarta.

Kekalahan Persimura sendiri berkat andil wasit yang terkesan memihak tuan rumah. Bahkan penonton yang simpati terhadap Persimura mengamuk, mengejar wasit dan merusak kursi di stadion. Manajer Persimura, H Rudi Irawan S.Sos MM yang mendampingi pemain mengaku menerima kekalahan dengan sportif. 

“Untuk hasil pertandingan kita terima secara sportif. Namun yang disayangkan kepemimpinan wasit yang kurang adil menjadi pengadil di lapangan. Cukup banyak kita dirugikan. Hanya saja ini sudah diprediksi sebelumnya dan bisa jadi resiko ketika menghadapi tuan tumah khususnya ketika bermain di Pulau Jawa,” kata Rudi kepada Musirawas via telepon. 

Dalam pertandingan yang disaksikan ratusan penonton itu, pemain Persimura sebenarnya menguasai jalannya pertandingan. Bahkan untuk ball position Persimura lebih unggul dibandingkan tuan rumah. Tercatat ada enam peluang gol yang tercipta, dua diantaranya membentur tiang gawang. Termasuk peluang dari Owen melalui heading yang masih bisa diselamatkan penjaga gawang lawan.

Mengawali pertandingan, pemain Persimura yang kelelahan setelah menjalani perjalana jauh terlihat belum on fire. Ada beberapa kesalahan dan blunder yang dilakukan pemain. Bahkan dua gol yang tercipta di babak pertama akibat kurang tenangnya barisan pertahanan serta penjaga gawang, Bayu Andika. Gol pertama terjadi dari tendangan bebas dan gol kedua akibat kesalahan Bayu. Hingga turun minum skor 2-0 untuk keunggulan tuan rumah. 

Babak kedua pemain Persimura benar-benar menguasai jalannya pertandingan dan beberapa kali menciptakan peluang. Hanya saja mental pemain sedikit terganggu akibat kepemimpinan wasit yang jelas-jelas merugikan Nucy Cs. Bahkan pertandingan sempat dihentikan akibat ada protes terhadap wasit. Semuanya bisa ditangani dan pertandingan kembali dilanjutkan. Dalam 45 menit babak kedua tuan rumah berhasil menambah satu gol. 

Dan ternyata setelah pertandingan selesai kembali terjadi keributan. Wasit yang memimpin pertandingan dikejar penonton dan beberapa pemain Persimura. Tidak hanya itu pendukung Persikasi juga lari tunggang langgang dikejar pendukung Persimura yang merupakan warga Purwakarta. Akibat amuk suporter tesebut puluhan kursi di stadion rusak. 

“Wasit benar-benar tidak fair. Mereka memihak tuan rumah dan sangat jelas terlihat. Wajar jika pemain dan penonton kesal. Namun yang pasti dari hasil pertandingan ini Laskar Lanang Niang sudah benar-benar maksimal berjuang membawa nama daerah. Ini perlu kita contoh,” kata Herman Sawiran S.Pd, yang khusus dalang ke Purwakarta naik Bus untuk memberikan semangat kepada Persimura.

Dengan hasil ini, sementara Persimura berada pada juru kunci. Sementara Persikasi berada kokoh di puncak dengan angka enam berkat dua kali kemenangan yang diraih. Untuk persimura, hari ini tidak ada jadwal pertandingan. Baru Selasa (28/10) Nucky Cs kembali bertanding menghadapi Persikab, Pasuruan. Selanjutnya Rabu (29/10) Persimura menghadapi PS Bangka Tengah dan terakhir Jum’at (31/10) menghadapi Aceh Putra. Tiga pertandingan sisa Persimura wajib menang untuk mendapatkan satu tiket ke perempat final. (ME-01)

Sebagian Peminjam Dana Bergulir Mengaku Sudah Mengembalikan Pinjaman

*Terkait Penunggakan Dana Bergulir

MUSI RAWAS - Plt Sekda Musi Rawas, Drs Senen Singadilaga MSi mengatakan dana bergulir yang telah dipinjamkan kepada 38 kelompok di 13 Kecamatan sifatnya tidak habis begitu saja tetapi akan digulirkan kembali kepada pihak yang membutuhkannya dengan tujuan untuk memberdayakan perekonomian masyarakat.

Hingga Sabtu lalu, jumlah dana bergulir yang telah dikembalikan peminjam mencapai Rp 192.320.500 dari total keseluruhan dana bergulir Rp 950 juta, artinya sudah dikembalikan 32 persen. Hal ini disampaikan Senen pada pertemuan mendengarkan penjelasan terhadap penunggakan dana bergulir dari ketua kelompok dan 13 camat di op room Pemkab Mura, Sabtu (25/10).

Dilanjutkan Senen, sesuai intruksi bupati Nomor. 500/265/IV/2008 tertanggal 28 Juli 2008, peminjam dana bergulir harus membayar pinjaman yang telah diambil mengingat jatuh tempo pengembalian sudah berakhir sejak 30 September 2008. 

Meskipun telah jatuh tempo, lanjut Senen, Pemkab Mura masih memberikan perpanjangan tempo pembayaran hingga 25 November 2008. 

“Pinjaman harus segera dikembalikan 25 November 2008, jika tidak dilakukan maka akan diterapkan sanksi karena dana bergulir disinyalir telah terjadi penyelewengan, sanksi yang akan diterapkan nantinnya tanpa pandang bulu, baik terhadap PNS ataupun swasta murni,”kata Senen.

Selain itu kata Senen, terhadap peminjam yang sudah meninggal dunia nantinya akan menjadi pertanggungjawaban ahli waris sebab dana bergulir yang telah diambil sifatnya hutang yang harus dilunasi. 

Asisten II, H Raidusyahri SH MM, dalam pertemuan itu menambahkan peminjam dana bergulir harus segera diupayakan dapat dilunasi, agar tidak terkena sanksi sebab pasal yang akan diterapkan tetap sama meskipun nominal pinjaman berbeda. “Rp 1 dan Rp 25 juta memiliki kesamaan pasal dan sanksinya pun sama,”kata Raidusyahri.

Di tempat yang sama, Camat Rupit, Alwi Roham SSos mengatakan pihaknya beberapa hari terakhir telah melaksanakan rapat khusus dengan dua kelompok peminjam dana bergulir.

Diakui Alwi Roham, peminjam dana bergulir di Kecamatan Rupit terdiri dari perangkat desa, PNS dan masyarakat murni sepakat akan mengembalikan pinjaman dana bergulir, hanya saja bagi masyaraklat murni untuk saat ini terkendala murahnya harga karet dan sawit sehingga meminta perpanjangan tempo pembayaran.

Ditempat yang sama, Camat Muara Kelingi, Drs Ali Sadikin MSi mengatakan pihaknya telah melakukan rapat dengan dua kelompok peminjam dana bergulir. Dari pengakuan 10 anggota kelompak Pulau Panggung menyatakan, lima diantaranya siap mempertanggungjawabkan pengembalian pinjaman namun lima anggota lainnya hingga saat ini belum bisa dimonitor, (hilang,red).

Lanjut Ali Sadikin, kelompak kelurahan Kelingi mengakui jika anggotanya telah mengemabalikan pinjaman dana bergulir sebesar Rp 25 juta, hanya saja setoran yang terdaftar hanya Rp 7 juta. “Dari kelompok mengaku sudah menyetor lunas, tetapi tidak memiliki surat penyetoran dari Bank BRI, namun hal ini nanti akan dibicarakan kembali di tingkat kecamatan,”katanya.

Camat Jayaloka, Agus Susanto AP, dari pengakuan dua ketua dan anggota kelompok telah mengembalikan pinjaman hingga 15 bulan, masing-masing Rp 18 juta, untuk itu, anggota kelompok meminta agar cicilan lanjutan dimulai hingga Desember 2008. 

Ditempat yang sama, permasalahan yang dihadapi pemimjam dana bergulir di tiga kecamayan tersebut menurut 10 camat lainnya tidak jauh berbeda dengan peminjam dana bergulir yang ada di kecamatan masing-masing, sehingga kedepan kembali akan dilakukan pertemuan.

Subagio, ketua kelompok Desa F Trikoyo menyampaikan lambannya pengemabalian dana bergulir tersebut disebabkan anggota Poktan tidak memiliki nomor rekening BRI sehingga hal ini menylitkan anggota untuk melunasi angsuran mereka.

“Ada sebagian anggota telah mengangsur cicilan kepada petugas Pemkab Mura yang langsung mendatangi anggota kelompok, sebenarnya kami ingin membayar langsung ke rekening bank namun kami tidak mengetahui nomor rekening BRI tersebut, padahal kami sering menanyakan nomor rekening kepada petugas yang sering menagih angsuran,”ungkap Subagio.

Selain itu kata Subagio, terjadi keganjilan terhadap anggota yang telah meminjam dana bergulir, dimana empat diantara peminjam bukan anggota kelompok Desa F Trikoyo. “Kami kebingungan mau menagih kemana, sebab empat orang ini bukan anggota kami, identitas jelas keempatnya tidak jelas,”katanya.

Namun. lanjut Subagio, sesuai dengan surat yang telah dikirimkan pihak kecamatan, anggota kelompoknya sepakat untuk mengembalikan pinjaman dana bergulir. 

Kabag Ekonomi, Drs Ec Priscodesi MSi kepada Musirawas Ekspres seusai petermuan mengatakan bagi peminjam dana bergulir yang ingin mengangsur cicilan dapat memasukkan bank BRI dengan nomor rekening 0129-01-000-201-30-1.

Kembali dikatakan Prisco, sesuai dengan surat bupati No 32/B/kpts/VI/2005 tanggal 9 Desember 2005 menyatakan bahwa apabila pinjaman dana bergulir tidak dikembalikan maka akan dilimpahkan ke kejaksaan atau dituntut di pengadilan. 

“Bupati Mura benar-benar serius menanggapi pengembalian dana bergilir ini, diharapkan kepada anggota kelompok yang meminjam dana bergulir untuk mengembalikan pinjamannya, karena sudah tiga kali jatuh tempo,”katanya dan menambahkan satu anggota kelompok harus mengembalikan Rp 2,5 juta. (ME04) 

Sarmidi: Penertiban Jalan Terus

*Meskipun Usai Kebakaran

LUBUKLINGGAU-Walaupun Blok A dan B Pasar Inpres Lubuklinggau terbakar. Tapi tidak menyurutkan langkah Pol PP Kota Lubuklinggau untuk melakukan penertiban pedagang. Buktinya Pol PP tetap akan melakukan penertiban seperti sebelum terjadinya kebakaran.

Penegasan ini disampaikan Kepala Satuan (Kasat) Pol PP Kota Lubuklinggau, Sarmidi SH, Sabtu (25/10) di halaman hotel Hakmaz Taba, sebelum mengikuti fit and profertest. Menurutnya penertiban pedagang tetap akan dilaksanakan seperti sebelumnya. 

Karena untuk penertiban Pol PP tidak akan memberi toleransi. Hal ini dilakukan untuk mengurangi Pedagang Kaki Lima (PKL) yang berjualan di Pasar Inpres Kota Lubuklinggau. “ Kita akan terus melakukan penertiban untuk mengurangi PKL yang berjualan di badan jalan,”tegasnya. 

Sarmidi mengatakan jika memang PKL tidak mau ditertibkan secara terus menerus lebih pindah saja ke Pasar Bukit Sulap (PBS) yang tempatnya sudah dibangun Pemkot Lubuklinggau. Menyinggung masalah pedagang pasca kebakaran, Sarmidi mengatakan tidak mengetahui masalah itu. Tapi yang pasti pindah atau tidaknya pedagang tersebut merupakan tanggung jawab PD pasar. “Kalau masalah itu, tanggung jawab Dinas Pasar,” ungkapnya. (ME-02)

Krisis, Produksi Tempe Merosot

MUSI RAWAS- Produksi tempe di Kabupaten Musi Rawas (Mura) dan Kota Lubuklinggau masa krisis global saat ini mengalami penurunan atau merosot tajam. Hal itu tidak bisa dipungkiri disebabkan turunnya harga karet dan sawit.

Kondisi ini diakui beberapa pemilik industri rumah tangga pembuatan tempe di Kota Lubuklinggau. Arsi misalnya, kepada koran ini mengatakan meskipun harga kedelai impor saat ini telah mengalami penurunan hingga Rp 6.100/kg dari sebelumnya Rp 7.700 namun pasaran tempe saat ini jauh mengalami penurunan. 

“Dibanding sebelum harga kedelai turun, produksi tempe saya mampu menghabiskan kedelai 100 kg hingga 200 kg per hari, sekarang untuk menghabiskan tempe dengan kapasitas kedelai 80 kilo saja sudah sulit,” kata Asri.

Ditambahkan Arsi, turunnya daya beli tempe ini disebabkan karena pembeli tempe yang mayoritas dari Kabupaten Mura rendah sejalan anjloknya harga karet sawit. Alhasil mereka jarang pergi ke Kota Lubuklinggau untuk membeli tempe.

“Tempe yang kita jual biasanya diborong tukang sayur untuk dijual kembali ke pasar kalangan yang ada di Kabupaten Mura. Selain itu banyak juga orang dari desa di yang datang ke Lubuklinggau dan membeli tempe,” ungkapnya.

Selain itu, kata Arsi penyebab lainnya dikarenakan tukang sayur yang biasa memborong tempe banyak beralih profesi menjadi penjual buah-buahan. “Sekarang ini, musim buah-buahan jadi tukang sayur banyak yang beralih profesi menjadi penjual buah-buahan, padahal sebelumnya mereka turut membantu memasarkan tempe,” tukasnya.

Sementara itu, Kasim penjual sayuran warga Simpang Semambang Kecamatan Tuah Negeri mengatakan, turunnya harga karet dan sawit, mengakibatkan sepinya pembeli sayuran baik di pasar kalangan atau desa di Kabupaten Mura.

“Sebenarnya bukan penjualan tempe saja yang mengalami penurunan, sayuran dan lauk pauk yang saya bawa kensumennya juga berkurang. Tampaknya warga lebih senang memanfaatkan sayuran yang ada di pekarangan rumahnya atau tanaman sendiri. Melihat kondisi ini, saya juga pikir-pikir untuk beralih profesi menjadi penjual buah-buahan,” pungkasnya. (ME04)

Oknum TNI & Polri Disersi Rampok Truck Diesel

TERAWAS-Aksi perampokan dengan mencegat truck diesel BD 8207 AN memakai senjata api (Senpi), Jumat (24/10) sekitar pukul 19.00 WIB kembali terjadi di Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) Km 40 Bukit Beton wilayah hukum Polsek STL Terawas. 

Perampokan itu menyebabkan Asun alias Hendri (40) warga Jl Batur Kelurahan Jawa Kiri, Kecamatan Lubuklinggau Timur II mengalami kerugian puluhan juta rupiah, sebab uang tunai Rp 10 juta dan cek kontan BRI Rp 45 juta serta Hand Phone Nokia dibawa perampok. 

Kuat dugaan perampokan tanpa menimbulkan korban jiwa tersebut dilakukan lima orang, diantara ada oknum anggota TNI dan Polri yang disersi. Untuk oknum Polri dalam perampokan itu diduga memakai pakaian Polantas. 

Informasi yang berhasil dihimpun Musirawas Ekspres di lapangan menyebutkan sebelum perampokan truck diesel yang dikendarai Andi (45) warga Kelurahan Pasar Permiri, Kecamatan Lubuklinggau Barat I berangkat dari Provinsi Jambi menuju Kota Lubuklinggau. 

Mungkin saat berangkat mobil truck tersebut sudah diiring oleh lima pelaku yang memakai mobil sejenis Avansa. Tiba di lokasi kejadian mobil truck diesel tersebut langsung dicegat. Kemudian kelima pelaku yang salah satunya menodongkan senjata ke korban menyuruh korban menyerahkan seluruh harta yang dibawa korban. 

Melihat korban tidak berdaya, kelima pelaku langsung mengambil uang tunai Rp 10 juta, Hand Phone Nokia, kartu ATM dan cek kontan BRI senilai Rp 45 juta. Setelah berhasil menguras korban, kelima pelaku lansung melarikan diri membawa uang hasil rampokan.  

Sementara sumber lain menyebutkan perampokan itu terjadi kemungkinan salah seorang pelaku yang memakai seragam Polantas itu berpura-pura melakukan razia. Saat truck diesel yang menjadi target tersebut berhenti, keempat pelaku yang ada didalam mobil langsung keluar dan menodongkan senpi ke arah korban. 

Kapolres Musirawas, AKBP Herry Nixon's Sik melalui Kapolsek STL Terawas AKP Edy kepada Musirawas Ekspres mengakui memang benar ada perampokan di wilayah Bukit Beton, KM 40 Jalan Lintas Sumatera. "Benar ada perampokan di daerah bukit beton,"tegasnya. Menyinggung masalah ada oknum TNI dan Polri yang ikut dalam perampokan itu, ia mengatakan tidak benar itu. 'Siapa bilang ada oknum TNI dan Polri yang ikut dalam perampokan itu,"pungkasnya. 

Sementara itu Kasdim 0406 Mura, Mayor Inf Marzuki, ketika dikonfirmasi Musirawas Ekspres, mengenai dugaan ada oknum TNI yang ikut melakukan perampokan truck diesel di Bukit Beton mengatakan belum mengetahuinya. "Saya belum mengetahui, kalau begitu laporkan saja ke pimpinan,"tegasnya. (ME-02)  

25 Oktober 2008

Api Diduga dari Petak Milik Emi


*Tim Labfor Kesulitan Identifikasi

LUBUKLINGGAU-Tim Laboratorium Forensik (Labfor) dari Polda Sumsel, Jumat (24/10) turun ke lokasi kebakaran Blok A dan B Pasar Inpres Kota Lubuklinggau. Kendati tim tersebut belum menyimpulkan penyebab kebakaran, namun penyidik Polres Lubuklinggau menduga api berasal dari petak (tempat jualan, red) milik Emi, yang berada di dekat tangga Blok A dan Blok B.

Seperti dijelaskan Kapolres Lubuklinggau, AKBP H Yohannes Soeharmanto SH S.Ik melalui Kasat Reskrim, AKP Edwartu. Berkaitan dengan kebakaran tersebut pihaknya sudah memeriksa tiga orang saksi yakni petugas jaga malam, Yansuri dan Ibrahim serta pemilik petak, Emi.

“Berdasarkan keterangan petugas jaga malam, api pertama kali terlihat di petak milik Emi, sekitar pukul 01.30 WIB. Makanya kita menduga dari sanalah asal api pertama kali,” ujar Edwartu sambil menjelaskan mengenai penyebab kebakaran pihaknya masih menunggu hasil pemeriksaan Labfor.

Selain itu Kasat Reskrim juga tidak mau berjanji atau pun menargetkan kapan kira-kira pihaknya bisa menginformasikan penyebab kebakaran, dan juga apakah karena ada unsur kesengajaan atau pun tidak. “Intinya kita menunggu tim Labfor,” pungkasnya.

Sementara itu Tim Labfor dipimpin AKP Fauzi, sempat mengalami kesulitan saat hendak melakukan identifikasi di lapangan. Pasalnya terlalu banyak warga dan pedagang yang berada di lokasi, sehingga petugas tidak bisa melakukan penelitian secara mendetail.

“Kita hanya meminta agar lokasi dikosongkan, cukup dua jam saja. Karena objek-objek yang umum sudah kita potret, kini tinggal objek khusus saja,” jelas salah seorang anggota Labfor, yang kemudian meminta kepada Kasat Reskrim agar mensterilkan lokasi. Alhasil Kasat Reskrim langsung meminta bantuan Dalmas dan Pol PP untuk mensterilkan lokasi.

Jika sebelumnya tim labfor berkeliling di seputaran lokasi kebakaran yang memiliki luas area 57 meter x 63 meter (3.591 meter persegi), pemeriksaan dilanjutkan pada titik dugaan asal api. Mereka bahkan terlihat mengais-ngais puing kebakaran. Jika ada benda-benda yang dianggap menarik, maka langsung mereka mengambilnya. Selain itu juga diperiksa kios-kios yang berada di dekat api pertama terlihat.

“Kita lakukan olah TKP, untuk mengumpulkan data dan bukti penyebab terjadainya kebakaran. Hasilnya nanti akan langsung kita serahkan ke Polres Lubuklinggau. Secepatnya kalau sudah selesai diperiksa,” jelas AKP Fauzi.

Sementara itu mencuatnya isu kalau kebakaran ada indikasi disengaja menimbulkan reaksi beberapa pihak. Salah satunya dari Koordinator LSM Sumpah Undang Undang, Herman Sawiran S.Pd.

“Untuk semua pihak ! Atas kebakaran Pasar Inpers nasi sudah menjadi bubur, yang sudah terbakar sudah jadi abu dan hangus tidak bisa dikembalikan seperti semula. Jadi stop komentar-komentar yang saling menduga. Semua serahkan kepada aparat hukum yang sedang menyelidikinya,” tegas Herman.

Namun sekarang pada intinya semua padagang menurut Herman membayar retribusi dan juga uang keamaman termasuk jaga malam. Makanya, salah satu jalan solusi pemecahan untuk mengungkapnya, polisi bisa memanggil selutuh petugas jaga malam di wilayah kios pasar. “Dan selain itu mau tidak mau kios pasar yang terbakar segera diperbaiki setelah ditangani pihak kepolisian. Jangan sampai terbengkalai apalagi informasinya akan dibangun mall atau plaza. Wah ini sangat menyakitkan para pedagang yang sudah lama mengais rezeki di sana,” katanya.

Atas semua itu SUU mengeluarkan beberapa pernyataan sikap. Intinya SUU mengutuk serta menyumpah jika ada oknum siapapun orangnya yang ingin mengambil kesempatan atas terbakarnya Pasar Inpers. Karena pada intinya kebakaran jangan dianggap sebagai solusi untuk mengatasi semerawutnya pasar atau sebuah harapan untuk mensejahterakan rakyat.

“Karena kemana mereka 9pedagang, red) akan makan dan membiayai anak-anak sekolah sementara tempat mencari nafkah mereka hangus terbakar. Paling tidak Pemkot mencari solusi agar segera merenovasi, membangun ulang kios yang terbakar serta embantu kerugian pedagang. Kerena mereka membayar retribusi,” tambahnya.

Sebagai pesan khusus SUU menegaskan jangan pula dengan terbakarnya pasar menjadikan kesempatan Pemkot Lubuklinggau merangkul investor membangun plaza atau pusat perbelanjaan mewah. “Jika benar ini tentu sengat menyakitkan dan malah menimbulkan isu negatif,” tukasnya. (ME-03/ME-01)

Api Sempat Mengecil

SELAIN melakukan olah TKP, Tim Labfor juga meminta keterangan dua orang saksi yang pertama kali mengetahui kebakaran tersebut. Kedua orang itu adalah Yansuri dan Hafis, mereka adalah petugas jaga malam, yang saat kejadian ada di Pasar Inpres tepatnya di lantai dua.

Pemeriksaan tersebut langsung dilakukan oleh AKP Fauzi di Kantor Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Pengelolaan Pasar Kota Lubuklinggau atau di depan lokasi kebakaran, disaksikan Kasat Reksrim Polres Lubuklinggau dan Kepala Dinas Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Pengelolaan Pasar, Syahril Nuri SH, serta beberapa staf dan anggota Polres Lubuklinggau. Hanya saja dalam pemeriksaan itu AKP Fauzi hanya mencatat beberapa point penting saja, tepatnya mengenai kronologis kebakaran.

Dari keterangan kedua orang tersebut terungkap beberapa hal. Diantaranya keterangan Yansuri, saat kejadian ia berada di lantai dua, karena melihat adanya asap makanya langsung belari menuju asal asap. Ternyata asap berasal dari petak milik Emi.

Ia kemudian langsung membuka atap seng petak tersebut dari atas, bersamaan itu terlihat api keluar. Selanjutnya ia berusaha memadamkan api, dengan cara mengambil air. Hafis yang juga ada di Pasar Inpres, membantu berusaha memadamkan api dan membongkar petak milik Emi.

Dalam pemeriksaan tersebut Yansuri juga menjelaskan bahwa api sempat mengecil karena usaha keras mereka memadamkannya, hanya saja karena masih banyak atap/tenda plastik di dekat petak Emi, sehingga api menjalar melalui tenda tersebut dan ada juga yang menjalar melalui kabel. “Karena itulah pak kemudian api membesar,” cerita Yansuri.(ME-03)

Pedagang Blok A Tidak Mau Pindah

KENDATI blok A Pasar Inpres Kota Lubuklinggau habis terbakar, tidak serta merta pedagang yang berjualan disana akan pindah ke Pasar Bukit Sulap (PBS) yang sudah disiapkan Pemerintah Kota (Pemkot) Lubuklinggau. 

Buktinya, kemarin (Jumat, 24/10) pedagang yang kiosnya terbakar tetap membersihkan tempat tersebut untuk berjualan kembali. Uniknya pedagang tersebut tetap ngotot tidak mau pindah karena tempat yang dipersiapkan di PBS terlalu sempit.

Salah seorang pedagang di blok A, Yar kepada Musirawas Ekspres menegaskan sebanyak 62 pedagang yang menempati kios di Blok A pasar Inpres tidak mau pindah, walaupun kios yang selama ini ditempati untuk berjualan habis terbakar. Keengganan untuk pindah itu bukan tanpa alasan, karena kios yang sudah dibangun Pemkot Lubuklinggau di PBS ruangannya sangat kecil, Cuma berukuran 1x1 meter. 

“Kami tidak akan pindah kalau tempatnya cuma 1 x 1 meter, pedagang akan pindah apabila kios yang disiapkan tersebut ukurannya lebih dari itu,” tegasnya. Artinya pedagang akan pindah apabila ukuran kios minimal 2 x 2 meter. Kalau ukuran seperti yang dikehendaki pedagang, kemungkinan pedagang tanpa dipaksa akan pindah ke PBS. “ Tolong sampaikan ke Walikota dan Wakil Walikota Lubuklinggau pedagang akan pindah ke PBS asalkan tempat untuk berjualan memadai,” jelasnya.  

Dalam kesempatan itu Yar mengatakan bahwa ia mulai berdagang di blok A Pasar Inpres Lubuklinggau sejak 1994 lalu sampai sekarang. Sebelumnya lokasi tempat berjualan adalah tempat orang kencing dan buang air besar. “Kami merintis berjualan sejak mantan Bupati Rajab Semendawai. Dulunya tempat untuk kncing dan mising (buang air kecil dan besar, red),” paparnya.

Pertama kali merintis menurut Yar pedagangnya hanya berjumlah 20 orang, seiring bertambahnya waktu jumlah pedagangpun bertambah. Kalau sekarang mau usir kami tetap bertahan untuk memehuni kebutuhan hidup sehari-hari. “Sanggup pindah asal tempat memadai, karena tempat yang disiapkan terlalu sempit,” tegasnya. 

Di tempat terpisah Mail yang tokonya habis terbakar mengatakan akibat kebakaran tersebut, ia mengalami kerugian sekitar Rp 150 juta. Modal usaha tersebut kebanyakan pinjaman dari bank.

Untuk itu sebagai pedagang ia meminta ada kebijakan dari Pemkot Lubuklinggau untuk memikirkan pedagang yang kiosnya habis terbakar. “Apalagi saat ini masih menyekolahkan anak. Kalau tidak ada kebijakan bagaimana mau hidup dan menyekolahkan anak,” kata Mail. (ME-02)

Disinyalir Kapsul Lemak Babi Beredar di Linggau-Mura

*Agus : Masyarakat Tidak Perlu Khawatir

MUSI RAWAS - Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Sumsel menyatakan ada indikasi telah beredarnya obat-obatan yang mengandung lemak babi di pasaran. Tidak menutup kemungkinan telah kapsul yang tentunya haram ini beredar pada toko obat dan apotik di Sumatera Selatan termasuk Kota Lubuklinggau dan Kabupaten Musi Rawas (Mura).

Namun sejauh ini belum diketahui jenis dan merk obat-obatan yang mengandung lemak babi. Sebab BPOM Sumsel sedang melakukan penyelidikan serta penelitian terhadap obat-obatan yang disinyalir mengandung lemak babi tersebut. 

Menanggapi informasi ini, Kepala Dinas Kesehatan Mura, drg Hj Maimunah MS MM melalui Sekretaris Dinkes, Agus Mulyadi APT kepada Musirawas Ekspres Jumat (24/10) mengatakan pihaknya masih menunggu informasi lanjutan dari BPOM Sumsel. Sebab sejauh ini belum diketahui jenis dan merk obat-obat tersebut sehingga Dinkes Mura belum bisa menindaklanjuti isu tersebut.

"Kita masih menunggu hasil penelitian dari BPOM Sumsel dulu. Jika sudah diketahui maka kita akan inspeksi mendadak (Sidak) ke apotik dan toko obat agar obat tersebut tidak menyebar luas di pasaran atau dengan kata lain dilarang untuk dijual," kata Agus.

Dilanjutkannya, alasan kekhawatiran terhadap beredarnya obat yang mengandung lemak babi itu disebakan obat-obatan tidak disertai label halal dari BPOM, sehingga mengkhawatirkan umat muslim. "Kita tahu bahwa umat Islam melarang apapun yang berhubungan dengan babi, sehingga ini mengkhawatirkan umat muslim, apalagi tidak terdaftar di BPOM," terangnya.

Secara tehnis, lanjut Agus, lemak babi tersebut dinamakan gelatin (bahan baku untuk cangkang kapsul) yang diambil dari bagian tubuh hewan babi. Sedangkan obat berbentuk kapsul yang beredar saat ini menggunakan bahan baku dari hewan sapi, kambing, kerbau yang dianggap halal dan sudah terdaftar di BPOM. "Gelatin cangkang kapsul tersebut sudah terdaftar di BPOM sedangkan lemak babi sama sekali belum terdaftar sehingga belum diketahui bahan baku yang terkandung didalamnya," tukasnya.

Ditambahakan Agus kepada masyarakat tidak perlu resah terhadap informasi adanya kapsul yang terbuat dari lemak babi tersebut karena sejauh ini belum ada informasi yang jelas dari BPOM Sumsel.

Sementara itu Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Kota Lubuklinggau-Mura, Hasran Akwa SH didampingi Sekretaris YLKI, H Nurusulhi Nawawi Naning S.Sos kepada Musirawas Ekspres mengatakan sebelum obat yang diduga mengandung daging babi masuk beredar diwilayah Kota Lubuklinggau, Dinas Kesehatan (Dinkes) Lubuklinggau sudah mengambil langkah antisipasi.

Langkah antisipatif dengan melakukan crosscek ke setiap apotik yang ada di wilayah Kota Lubuklinggau. Tentunya yang mempunyai kewenangan melakukan crosscek adalah Dinkes. Selain itu juga Dinkes mempunyai kewenangan untuk melakukan pengawasan obat beredar di Lubuklinggau. 

"Karena tidak tertutup kemungkinan ada obat yang mengandung daging babi sudah beredar di linggau," terangnya. Kemudian Dinkes juga harus memberi peringatan terhadap pemilik apotik supaya jangan menjual produk copsul yangg mengandung lemak babi. "Sebelum masuk harus diantisipasi, jangan dsmpsi sudah masuk bsru diantisipasi," pintanya. (ME04/ME-02)

BMG Sumsel Perkirakan Curah Hujan di Mura Tinggi

*Potensi Banjir Tinggi, Tim Tagana Persiapkan Diri

MUSI RAWAS - Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Sumatera Selatan menyatakan intensitas curah hujan November 2008 hingga akhir Februari 2009 tinggi, sehingga potensi banjir di Kabupaten Musi Rawas (Mura) sangat terbuka.  

Kepala Dinas Sosial Mura, Drs Marzuki Tamah melalui Kasi Penanggulangan Bencana Alam, Efan Syaifani S.Pd, kepada Musirawas Ekspres, Jumat (24/10) mengatakan informasi tersebut telah mereka pihaknya. Untuk itu tim Taruna Siaga Bencana (Tagana) Dinsos Mura telah disiagakan di beberapa titik rawan banjir.

"Kita sudah siap, sewaktu-waktu terjadi banjir, tim akan segera turun ke lapangan untuk membantu warga dalam proses evakuasi," kata Efan.

Ditambahkannya, sejauh ini pihaknya terus melakukan pemantauan terhadap adanya indikasi peningkatan debit air di beberapa sungai utama di Kabupaten Mura, Dan kata Efan kenaikan air sungai masih dianggap dalam tahap wajar.

"Turunnya hujan beberapa hari terakhir mengakibatkan volume air sungai meningkat, tetapi setelah dilakukan pemantauan ketinggian tidak terlalu mengkhawatirkan atau masih dalam tahap kewajaran," terangnya.

Kata Efan sedikitnya 15 anggota tim Tagana yang tersebar di beberepa wilayah kecamatan rawan banjir saat ini terus berkoorodinasi dengan Dinsos Mura guna melaporkan perkembangan terbaru mengenai kemungkinan terjadinya banjir, sama halnya dengan laporan masyarakat terhadap ketinggian air sungai. Hal ini bertujuan agar nantinya dapat memberikan peringatan kepada warga sebelum terjadi banjir.

"Setidaknya warga dapat diberikan peringatan sebelum terjadi banjir, untuk itu warga hendaknya juga melaporkan perkembangan terbaru mengenai kemungkinan banjir di sungai yang ada di desa mereka," jelasnya.

Dilanjutkan Efan, tim Tagana terus memonitoring perkembangan Sungai Rawas, Rupit, Musi dan Kelingi pasca peringatan yang disampaikan pihak BMG Sumsel tersebut agar warga yang tinggal di bantaran sungai dapat diberikan peringatakan dan mempersiapkan diri sebelum banjir melanda desa mereka.

Dijelaskannya untuk saat ini tim Tagana baru memiliki peralatan tenda pleton, tenda regu, perahun karet, rompi renang, peralatan dapur umum, genset, lampu sorot, dan valbet. Tidak hanya itu, lanjut Evan pihaknya saat ini telah mengirimkan surat kepada Menteri RI Cq Dinas

Sosial Provinsi yang ditandatangani oleh Bupati prihal meminta bantuan peralatan penanggulangan bencana. Diantaranya peralatan menyelam 2 unit, perahu dolpin satu unit, perahu karet 3 unit dan mobil box 1unit. 

"Peralatan yang telah dimiliki oleh Dinsos saat ini masih terbatas dengan demikian kami meminta bantuan kepada Mensos untuk memberikan bantuan peralatan untuk penanggulangan bencana," pungkasnya. (ME04)

Pisah dengan Keluarga, Satu Hari Jatah Makan Rp 10 Ribu

*Cerita Pekerja ‘Impor’ Penggali Kabel dari Brebes

 Beberapa hari ada pemandangan yang beda di pinggiran jalan dalam wilayah Kota Lubuklinggau. Di sisi jalan raya ini terlihat pekerja penggali kabel yang diketahui milik PT Telkom, dengan tumpukan tanah hasil galian. Usut punya usut ternyata para pekerja ini bukan warga Kota Lubuklinggau atau daerah tetangga namun ternyata bisa diistilahkan impor (datangan, red) dari pulau Jawa tepatnya Brebes, Jawa Tengah. Bagaimana sebenarnya kisah tukang gali pipa yang katanya sudah keliling Indonesia ini, berikut hasil perbincangan Musirawas Ekspres dengan beberapa pekerja.

Oleh : Rahmad Sutesno - Lubuklinggau 

Biasanya jika ada proyek pemasangan kabel tanah baik Telkom, PLN ataupun pipa air, biasanya para pekerja membuat lubang di sepanjang sisi jalan untuk menanamnya menggunakan cangkul dan sekop. Namun untuk kabel Telkom yang akan ditanam di tanah ternyata teknisnya berbeda. Para pekerja tidak menggali secara keseluruhan namun hanya di beberapa bagian saja untuk kemudian semacam membuat bor manual pipa untuk memasukkan selang plastik warga oranye.

Pekerjaan ini tentunya membutuhkan kemahiran tersendiri. Tidak bisa dikerjakan oleh orang biasa yang sama sekali tidak ada pengalaman dalam hal ini. Makanya dalam pemasangan kabel PT Telkom di Kota Lubuklinggau dan Kabupaten Mura yang sudah berlangsung beberapa hari ini dikerjakan oleh orang khusus.

Tidak tanggung-tanggung para pekerja didatangkan dari Brebes, Jawa Tengah. Dan pekerja impor ini ternyata memang mempunyai spesialiasi membuat lubang untuk menanam kabel PT Telkol. Buktinya mereka sudah mengerjakan pekerjaan ini di beberapa provinsi di Indonesia. Nah karena sering keliling, otomatis para pekerja ini lebih sering meninggalkan kelurga yang mayoritas tinggal di Brebes. 

Jauh dari perhatian keluarga, makan seadanya, jika sakit harus berjuang sendiri dan wajib pintar-pintar mengantur keuangan agar bisa pulang membawa uang yang banyak untuk menutupi kehidupan keluarga dan tentunya menyenangkan anggota keluarga yang selalu menantikan kepulangan mereka. 

Salah satu contoh dialami Maskun (36) bersama anaknya Mulyadi (18) warga Brebes, Jawa Tengah. Kedua orang dari generasi berbeda ini rela pisah dengan keluarga hanya untuk mengais rezeki sebagai tukang gali pipa Telkom. Dengan jujur dan bangga, Maskun mengaku sangat bersyukur diberika kenikmatan sejat sehingga dirinya masih bisa bekerja. 

Ayah empat anak asal Brebes, Jawa Tengah itu mengaku sudah bisa mengumpulkan uang secukupnya untuk keperluan keluarga di Brebes. Membiayai sekolah anak, membeli sandang pangan dan papan untuk keluarga serta menyisihkan sedikit uang untuk melaksanakan khayalannya bisa piknik dengan anggota keluarga. Uangnya tentu didapatnya dari upah mengerjakan proyek galian di Lubuklinggau selama sekitar dua bulan ini. 

Bersama sekitar 70 temannya asal Pemalang, Jawa tengah Maskun mengerjakan proyeknya berupa penanaman kabel telepon di Lubuklinggau. Sudah setengah bulan Maskun dan teman-temannya menginjakkan kaki di Lubuklinggau tentunya untuk bekerja bermodalkan kemahiran dan fisik yang kuat. Sistem kerja Maskun dan puluhan temannya adalah borongan. Untuk galian satu meter dibayar Rp 9.000. 

 Dalam satu hari menurutnya terkadang bisa menggali lebih dari lima meter, dengan kedalaman galian untuk menanam pipa kabel telepon 2 hingga 2,4 meter.

"Paling sedikit saya masih bisa mendapat Rp 100.000 per hari. Kalau pengeluaran saya dan anak saya dijatahi Rp 20.000 per hari untuk makan dan rokok. Dan hasilnya saya masih bisa menyisihkan Rp 80.000 untuk keluarga nantinya di kampung dalam satu hari kerja," kata Maskun sambil menghisap rokok kretek.

Maskun yang ditemui Musirawas Ekspres ketika sedang asyik melepaskan peluh mengatakan sudah satu tahun ia dan anaknya (Mulyadi red) berkecimpung dengan tanah. Dimana sebelum menginjakkan kaki di Lubuklinggau Maskun bersama dengan teman-temannya sudah pulang dari Aceh, Sulawesi, Padang, Langkat dan Kalimantan.

“Setelah selesai di Llubuklinggau rencananya akan berpindah ke Lahat. Ya inilah kerja kita selalu berpindah untuk sekedar mencari uang menutupi kebutuhan. Di masa sulit seperti saat ini kerja kasar yang halal sangat penting,” tukasnya. *

Top Reader

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More