EDISI CETAK

Dapatkan informasi terkini di koran harian Musirawas Ekspres (Mureks), media terbesar dan tersebar di setiap pelosok Musi Rawas. Untuk berlangganan dan Pemasangan Iklan, hubungi (0733) 452552.

BALIHO MURATARA

Baliho selamat datang di Muratara yang terpasang di Desa Rantau Jaya Kecamatan Karang Jaya. Muratara diharapkan terbentuk pada sidang paripurna DPR RI Mei hingga Juni 2013

BELUM MAU TERIMA POLISI

Aksi demo yang diwarnai bentrok masyarakat Muratara dengan pihak kepolisian pada Senin (29/4) malam membuat warga sempat beberapa hari pasca bentrok tidak mau menerima kehadiran polisi

ANCAM TUNTUT PEMERINTAH

Ketua Presidium Muratara Muhammad Ibrahim menegaskan, pihaknya akan menuntut pemerintah jika Muratara tidak dimekarkan menjadi Daerah Otonom Baru (DOB). Hal ini ditegaskannya kepada wartawan usai melakukan pertemuan dengan Anggota Komisi III DPR RI Ahmad Yani,(10/5).

Musirawas Ekspres Berikan Bantuan Korban Kerusuhan Muratara

Direktur PT Musirawas Media, Solihin didampingi Camat Muara Rupit, Firdaus dan GM Musirawas Ekspres, Panca Riatno serta Pimred Musirawas Ekspres, Endang Kusmadi menyerahkan bantuan ke keluarga Alm Rinto Arianto.


27 Oktober 2008

Sebagian Peminjam Dana Bergulir Mengaku Sudah Mengembalikan Pinjaman

*Terkait Penunggakan Dana Bergulir

MUSI RAWAS - Plt Sekda Musi Rawas, Drs Senen Singadilaga MSi mengatakan dana bergulir yang telah dipinjamkan kepada 38 kelompok di 13 Kecamatan sifatnya tidak habis begitu saja tetapi akan digulirkan kembali kepada pihak yang membutuhkannya dengan tujuan untuk memberdayakan perekonomian masyarakat.

Hingga Sabtu lalu, jumlah dana bergulir yang telah dikembalikan peminjam mencapai Rp 192.320.500 dari total keseluruhan dana bergulir Rp 950 juta, artinya sudah dikembalikan 32 persen. Hal ini disampaikan Senen pada pertemuan mendengarkan penjelasan terhadap penunggakan dana bergulir dari ketua kelompok dan 13 camat di op room Pemkab Mura, Sabtu (25/10).

Dilanjutkan Senen, sesuai intruksi bupati Nomor. 500/265/IV/2008 tertanggal 28 Juli 2008, peminjam dana bergulir harus membayar pinjaman yang telah diambil mengingat jatuh tempo pengembalian sudah berakhir sejak 30 September 2008. 

Meskipun telah jatuh tempo, lanjut Senen, Pemkab Mura masih memberikan perpanjangan tempo pembayaran hingga 25 November 2008. 

“Pinjaman harus segera dikembalikan 25 November 2008, jika tidak dilakukan maka akan diterapkan sanksi karena dana bergulir disinyalir telah terjadi penyelewengan, sanksi yang akan diterapkan nantinnya tanpa pandang bulu, baik terhadap PNS ataupun swasta murni,”kata Senen.

Selain itu kata Senen, terhadap peminjam yang sudah meninggal dunia nantinya akan menjadi pertanggungjawaban ahli waris sebab dana bergulir yang telah diambil sifatnya hutang yang harus dilunasi. 

Asisten II, H Raidusyahri SH MM, dalam pertemuan itu menambahkan peminjam dana bergulir harus segera diupayakan dapat dilunasi, agar tidak terkena sanksi sebab pasal yang akan diterapkan tetap sama meskipun nominal pinjaman berbeda. “Rp 1 dan Rp 25 juta memiliki kesamaan pasal dan sanksinya pun sama,”kata Raidusyahri.

Di tempat yang sama, Camat Rupit, Alwi Roham SSos mengatakan pihaknya beberapa hari terakhir telah melaksanakan rapat khusus dengan dua kelompok peminjam dana bergulir.

Diakui Alwi Roham, peminjam dana bergulir di Kecamatan Rupit terdiri dari perangkat desa, PNS dan masyarakat murni sepakat akan mengembalikan pinjaman dana bergulir, hanya saja bagi masyaraklat murni untuk saat ini terkendala murahnya harga karet dan sawit sehingga meminta perpanjangan tempo pembayaran.

Ditempat yang sama, Camat Muara Kelingi, Drs Ali Sadikin MSi mengatakan pihaknya telah melakukan rapat dengan dua kelompok peminjam dana bergulir. Dari pengakuan 10 anggota kelompak Pulau Panggung menyatakan, lima diantaranya siap mempertanggungjawabkan pengembalian pinjaman namun lima anggota lainnya hingga saat ini belum bisa dimonitor, (hilang,red).

Lanjut Ali Sadikin, kelompak kelurahan Kelingi mengakui jika anggotanya telah mengemabalikan pinjaman dana bergulir sebesar Rp 25 juta, hanya saja setoran yang terdaftar hanya Rp 7 juta. “Dari kelompok mengaku sudah menyetor lunas, tetapi tidak memiliki surat penyetoran dari Bank BRI, namun hal ini nanti akan dibicarakan kembali di tingkat kecamatan,”katanya.

Camat Jayaloka, Agus Susanto AP, dari pengakuan dua ketua dan anggota kelompok telah mengembalikan pinjaman hingga 15 bulan, masing-masing Rp 18 juta, untuk itu, anggota kelompok meminta agar cicilan lanjutan dimulai hingga Desember 2008. 

Ditempat yang sama, permasalahan yang dihadapi pemimjam dana bergulir di tiga kecamayan tersebut menurut 10 camat lainnya tidak jauh berbeda dengan peminjam dana bergulir yang ada di kecamatan masing-masing, sehingga kedepan kembali akan dilakukan pertemuan.

Subagio, ketua kelompok Desa F Trikoyo menyampaikan lambannya pengemabalian dana bergulir tersebut disebabkan anggota Poktan tidak memiliki nomor rekening BRI sehingga hal ini menylitkan anggota untuk melunasi angsuran mereka.

“Ada sebagian anggota telah mengangsur cicilan kepada petugas Pemkab Mura yang langsung mendatangi anggota kelompok, sebenarnya kami ingin membayar langsung ke rekening bank namun kami tidak mengetahui nomor rekening BRI tersebut, padahal kami sering menanyakan nomor rekening kepada petugas yang sering menagih angsuran,”ungkap Subagio.

Selain itu kata Subagio, terjadi keganjilan terhadap anggota yang telah meminjam dana bergulir, dimana empat diantara peminjam bukan anggota kelompok Desa F Trikoyo. “Kami kebingungan mau menagih kemana, sebab empat orang ini bukan anggota kami, identitas jelas keempatnya tidak jelas,”katanya.

Namun. lanjut Subagio, sesuai dengan surat yang telah dikirimkan pihak kecamatan, anggota kelompoknya sepakat untuk mengembalikan pinjaman dana bergulir. 

Kabag Ekonomi, Drs Ec Priscodesi MSi kepada Musirawas Ekspres seusai petermuan mengatakan bagi peminjam dana bergulir yang ingin mengangsur cicilan dapat memasukkan bank BRI dengan nomor rekening 0129-01-000-201-30-1.

Kembali dikatakan Prisco, sesuai dengan surat bupati No 32/B/kpts/VI/2005 tanggal 9 Desember 2005 menyatakan bahwa apabila pinjaman dana bergulir tidak dikembalikan maka akan dilimpahkan ke kejaksaan atau dituntut di pengadilan. 

“Bupati Mura benar-benar serius menanggapi pengembalian dana bergilir ini, diharapkan kepada anggota kelompok yang meminjam dana bergulir untuk mengembalikan pinjamannya, karena sudah tiga kali jatuh tempo,”katanya dan menambahkan satu anggota kelompok harus mengembalikan Rp 2,5 juta. (ME04) 

Sarmidi: Penertiban Jalan Terus

*Meskipun Usai Kebakaran

LUBUKLINGGAU-Walaupun Blok A dan B Pasar Inpres Lubuklinggau terbakar. Tapi tidak menyurutkan langkah Pol PP Kota Lubuklinggau untuk melakukan penertiban pedagang. Buktinya Pol PP tetap akan melakukan penertiban seperti sebelum terjadinya kebakaran.

Penegasan ini disampaikan Kepala Satuan (Kasat) Pol PP Kota Lubuklinggau, Sarmidi SH, Sabtu (25/10) di halaman hotel Hakmaz Taba, sebelum mengikuti fit and profertest. Menurutnya penertiban pedagang tetap akan dilaksanakan seperti sebelumnya. 

Karena untuk penertiban Pol PP tidak akan memberi toleransi. Hal ini dilakukan untuk mengurangi Pedagang Kaki Lima (PKL) yang berjualan di Pasar Inpres Kota Lubuklinggau. “ Kita akan terus melakukan penertiban untuk mengurangi PKL yang berjualan di badan jalan,”tegasnya. 

Sarmidi mengatakan jika memang PKL tidak mau ditertibkan secara terus menerus lebih pindah saja ke Pasar Bukit Sulap (PBS) yang tempatnya sudah dibangun Pemkot Lubuklinggau. Menyinggung masalah pedagang pasca kebakaran, Sarmidi mengatakan tidak mengetahui masalah itu. Tapi yang pasti pindah atau tidaknya pedagang tersebut merupakan tanggung jawab PD pasar. “Kalau masalah itu, tanggung jawab Dinas Pasar,” ungkapnya. (ME-02)

Krisis, Produksi Tempe Merosot

MUSI RAWAS- Produksi tempe di Kabupaten Musi Rawas (Mura) dan Kota Lubuklinggau masa krisis global saat ini mengalami penurunan atau merosot tajam. Hal itu tidak bisa dipungkiri disebabkan turunnya harga karet dan sawit.

Kondisi ini diakui beberapa pemilik industri rumah tangga pembuatan tempe di Kota Lubuklinggau. Arsi misalnya, kepada koran ini mengatakan meskipun harga kedelai impor saat ini telah mengalami penurunan hingga Rp 6.100/kg dari sebelumnya Rp 7.700 namun pasaran tempe saat ini jauh mengalami penurunan. 

“Dibanding sebelum harga kedelai turun, produksi tempe saya mampu menghabiskan kedelai 100 kg hingga 200 kg per hari, sekarang untuk menghabiskan tempe dengan kapasitas kedelai 80 kilo saja sudah sulit,” kata Asri.

Ditambahkan Arsi, turunnya daya beli tempe ini disebabkan karena pembeli tempe yang mayoritas dari Kabupaten Mura rendah sejalan anjloknya harga karet sawit. Alhasil mereka jarang pergi ke Kota Lubuklinggau untuk membeli tempe.

“Tempe yang kita jual biasanya diborong tukang sayur untuk dijual kembali ke pasar kalangan yang ada di Kabupaten Mura. Selain itu banyak juga orang dari desa di yang datang ke Lubuklinggau dan membeli tempe,” ungkapnya.

Selain itu, kata Arsi penyebab lainnya dikarenakan tukang sayur yang biasa memborong tempe banyak beralih profesi menjadi penjual buah-buahan. “Sekarang ini, musim buah-buahan jadi tukang sayur banyak yang beralih profesi menjadi penjual buah-buahan, padahal sebelumnya mereka turut membantu memasarkan tempe,” tukasnya.

Sementara itu, Kasim penjual sayuran warga Simpang Semambang Kecamatan Tuah Negeri mengatakan, turunnya harga karet dan sawit, mengakibatkan sepinya pembeli sayuran baik di pasar kalangan atau desa di Kabupaten Mura.

“Sebenarnya bukan penjualan tempe saja yang mengalami penurunan, sayuran dan lauk pauk yang saya bawa kensumennya juga berkurang. Tampaknya warga lebih senang memanfaatkan sayuran yang ada di pekarangan rumahnya atau tanaman sendiri. Melihat kondisi ini, saya juga pikir-pikir untuk beralih profesi menjadi penjual buah-buahan,” pungkasnya. (ME04)

Oknum TNI & Polri Disersi Rampok Truck Diesel

TERAWAS-Aksi perampokan dengan mencegat truck diesel BD 8207 AN memakai senjata api (Senpi), Jumat (24/10) sekitar pukul 19.00 WIB kembali terjadi di Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) Km 40 Bukit Beton wilayah hukum Polsek STL Terawas. 

Perampokan itu menyebabkan Asun alias Hendri (40) warga Jl Batur Kelurahan Jawa Kiri, Kecamatan Lubuklinggau Timur II mengalami kerugian puluhan juta rupiah, sebab uang tunai Rp 10 juta dan cek kontan BRI Rp 45 juta serta Hand Phone Nokia dibawa perampok. 

Kuat dugaan perampokan tanpa menimbulkan korban jiwa tersebut dilakukan lima orang, diantara ada oknum anggota TNI dan Polri yang disersi. Untuk oknum Polri dalam perampokan itu diduga memakai pakaian Polantas. 

Informasi yang berhasil dihimpun Musirawas Ekspres di lapangan menyebutkan sebelum perampokan truck diesel yang dikendarai Andi (45) warga Kelurahan Pasar Permiri, Kecamatan Lubuklinggau Barat I berangkat dari Provinsi Jambi menuju Kota Lubuklinggau. 

Mungkin saat berangkat mobil truck tersebut sudah diiring oleh lima pelaku yang memakai mobil sejenis Avansa. Tiba di lokasi kejadian mobil truck diesel tersebut langsung dicegat. Kemudian kelima pelaku yang salah satunya menodongkan senjata ke korban menyuruh korban menyerahkan seluruh harta yang dibawa korban. 

Melihat korban tidak berdaya, kelima pelaku langsung mengambil uang tunai Rp 10 juta, Hand Phone Nokia, kartu ATM dan cek kontan BRI senilai Rp 45 juta. Setelah berhasil menguras korban, kelima pelaku lansung melarikan diri membawa uang hasil rampokan.  

Sementara sumber lain menyebutkan perampokan itu terjadi kemungkinan salah seorang pelaku yang memakai seragam Polantas itu berpura-pura melakukan razia. Saat truck diesel yang menjadi target tersebut berhenti, keempat pelaku yang ada didalam mobil langsung keluar dan menodongkan senpi ke arah korban. 

Kapolres Musirawas, AKBP Herry Nixon's Sik melalui Kapolsek STL Terawas AKP Edy kepada Musirawas Ekspres mengakui memang benar ada perampokan di wilayah Bukit Beton, KM 40 Jalan Lintas Sumatera. "Benar ada perampokan di daerah bukit beton,"tegasnya. Menyinggung masalah ada oknum TNI dan Polri yang ikut dalam perampokan itu, ia mengatakan tidak benar itu. 'Siapa bilang ada oknum TNI dan Polri yang ikut dalam perampokan itu,"pungkasnya. 

Sementara itu Kasdim 0406 Mura, Mayor Inf Marzuki, ketika dikonfirmasi Musirawas Ekspres, mengenai dugaan ada oknum TNI yang ikut melakukan perampokan truck diesel di Bukit Beton mengatakan belum mengetahuinya. "Saya belum mengetahui, kalau begitu laporkan saja ke pimpinan,"tegasnya. (ME-02)  

25 Oktober 2008

Api Diduga dari Petak Milik Emi


*Tim Labfor Kesulitan Identifikasi

LUBUKLINGGAU-Tim Laboratorium Forensik (Labfor) dari Polda Sumsel, Jumat (24/10) turun ke lokasi kebakaran Blok A dan B Pasar Inpres Kota Lubuklinggau. Kendati tim tersebut belum menyimpulkan penyebab kebakaran, namun penyidik Polres Lubuklinggau menduga api berasal dari petak (tempat jualan, red) milik Emi, yang berada di dekat tangga Blok A dan Blok B.

Seperti dijelaskan Kapolres Lubuklinggau, AKBP H Yohannes Soeharmanto SH S.Ik melalui Kasat Reskrim, AKP Edwartu. Berkaitan dengan kebakaran tersebut pihaknya sudah memeriksa tiga orang saksi yakni petugas jaga malam, Yansuri dan Ibrahim serta pemilik petak, Emi.

“Berdasarkan keterangan petugas jaga malam, api pertama kali terlihat di petak milik Emi, sekitar pukul 01.30 WIB. Makanya kita menduga dari sanalah asal api pertama kali,” ujar Edwartu sambil menjelaskan mengenai penyebab kebakaran pihaknya masih menunggu hasil pemeriksaan Labfor.

Selain itu Kasat Reskrim juga tidak mau berjanji atau pun menargetkan kapan kira-kira pihaknya bisa menginformasikan penyebab kebakaran, dan juga apakah karena ada unsur kesengajaan atau pun tidak. “Intinya kita menunggu tim Labfor,” pungkasnya.

Sementara itu Tim Labfor dipimpin AKP Fauzi, sempat mengalami kesulitan saat hendak melakukan identifikasi di lapangan. Pasalnya terlalu banyak warga dan pedagang yang berada di lokasi, sehingga petugas tidak bisa melakukan penelitian secara mendetail.

“Kita hanya meminta agar lokasi dikosongkan, cukup dua jam saja. Karena objek-objek yang umum sudah kita potret, kini tinggal objek khusus saja,” jelas salah seorang anggota Labfor, yang kemudian meminta kepada Kasat Reskrim agar mensterilkan lokasi. Alhasil Kasat Reskrim langsung meminta bantuan Dalmas dan Pol PP untuk mensterilkan lokasi.

Jika sebelumnya tim labfor berkeliling di seputaran lokasi kebakaran yang memiliki luas area 57 meter x 63 meter (3.591 meter persegi), pemeriksaan dilanjutkan pada titik dugaan asal api. Mereka bahkan terlihat mengais-ngais puing kebakaran. Jika ada benda-benda yang dianggap menarik, maka langsung mereka mengambilnya. Selain itu juga diperiksa kios-kios yang berada di dekat api pertama terlihat.

“Kita lakukan olah TKP, untuk mengumpulkan data dan bukti penyebab terjadainya kebakaran. Hasilnya nanti akan langsung kita serahkan ke Polres Lubuklinggau. Secepatnya kalau sudah selesai diperiksa,” jelas AKP Fauzi.

Sementara itu mencuatnya isu kalau kebakaran ada indikasi disengaja menimbulkan reaksi beberapa pihak. Salah satunya dari Koordinator LSM Sumpah Undang Undang, Herman Sawiran S.Pd.

“Untuk semua pihak ! Atas kebakaran Pasar Inpers nasi sudah menjadi bubur, yang sudah terbakar sudah jadi abu dan hangus tidak bisa dikembalikan seperti semula. Jadi stop komentar-komentar yang saling menduga. Semua serahkan kepada aparat hukum yang sedang menyelidikinya,” tegas Herman.

Namun sekarang pada intinya semua padagang menurut Herman membayar retribusi dan juga uang keamaman termasuk jaga malam. Makanya, salah satu jalan solusi pemecahan untuk mengungkapnya, polisi bisa memanggil selutuh petugas jaga malam di wilayah kios pasar. “Dan selain itu mau tidak mau kios pasar yang terbakar segera diperbaiki setelah ditangani pihak kepolisian. Jangan sampai terbengkalai apalagi informasinya akan dibangun mall atau plaza. Wah ini sangat menyakitkan para pedagang yang sudah lama mengais rezeki di sana,” katanya.

Atas semua itu SUU mengeluarkan beberapa pernyataan sikap. Intinya SUU mengutuk serta menyumpah jika ada oknum siapapun orangnya yang ingin mengambil kesempatan atas terbakarnya Pasar Inpers. Karena pada intinya kebakaran jangan dianggap sebagai solusi untuk mengatasi semerawutnya pasar atau sebuah harapan untuk mensejahterakan rakyat.

“Karena kemana mereka 9pedagang, red) akan makan dan membiayai anak-anak sekolah sementara tempat mencari nafkah mereka hangus terbakar. Paling tidak Pemkot mencari solusi agar segera merenovasi, membangun ulang kios yang terbakar serta embantu kerugian pedagang. Kerena mereka membayar retribusi,” tambahnya.

Sebagai pesan khusus SUU menegaskan jangan pula dengan terbakarnya pasar menjadikan kesempatan Pemkot Lubuklinggau merangkul investor membangun plaza atau pusat perbelanjaan mewah. “Jika benar ini tentu sengat menyakitkan dan malah menimbulkan isu negatif,” tukasnya. (ME-03/ME-01)

Api Sempat Mengecil

SELAIN melakukan olah TKP, Tim Labfor juga meminta keterangan dua orang saksi yang pertama kali mengetahui kebakaran tersebut. Kedua orang itu adalah Yansuri dan Hafis, mereka adalah petugas jaga malam, yang saat kejadian ada di Pasar Inpres tepatnya di lantai dua.

Pemeriksaan tersebut langsung dilakukan oleh AKP Fauzi di Kantor Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Pengelolaan Pasar Kota Lubuklinggau atau di depan lokasi kebakaran, disaksikan Kasat Reksrim Polres Lubuklinggau dan Kepala Dinas Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Pengelolaan Pasar, Syahril Nuri SH, serta beberapa staf dan anggota Polres Lubuklinggau. Hanya saja dalam pemeriksaan itu AKP Fauzi hanya mencatat beberapa point penting saja, tepatnya mengenai kronologis kebakaran.

Dari keterangan kedua orang tersebut terungkap beberapa hal. Diantaranya keterangan Yansuri, saat kejadian ia berada di lantai dua, karena melihat adanya asap makanya langsung belari menuju asal asap. Ternyata asap berasal dari petak milik Emi.

Ia kemudian langsung membuka atap seng petak tersebut dari atas, bersamaan itu terlihat api keluar. Selanjutnya ia berusaha memadamkan api, dengan cara mengambil air. Hafis yang juga ada di Pasar Inpres, membantu berusaha memadamkan api dan membongkar petak milik Emi.

Dalam pemeriksaan tersebut Yansuri juga menjelaskan bahwa api sempat mengecil karena usaha keras mereka memadamkannya, hanya saja karena masih banyak atap/tenda plastik di dekat petak Emi, sehingga api menjalar melalui tenda tersebut dan ada juga yang menjalar melalui kabel. “Karena itulah pak kemudian api membesar,” cerita Yansuri.(ME-03)

Pedagang Blok A Tidak Mau Pindah

KENDATI blok A Pasar Inpres Kota Lubuklinggau habis terbakar, tidak serta merta pedagang yang berjualan disana akan pindah ke Pasar Bukit Sulap (PBS) yang sudah disiapkan Pemerintah Kota (Pemkot) Lubuklinggau. 

Buktinya, kemarin (Jumat, 24/10) pedagang yang kiosnya terbakar tetap membersihkan tempat tersebut untuk berjualan kembali. Uniknya pedagang tersebut tetap ngotot tidak mau pindah karena tempat yang dipersiapkan di PBS terlalu sempit.

Salah seorang pedagang di blok A, Yar kepada Musirawas Ekspres menegaskan sebanyak 62 pedagang yang menempati kios di Blok A pasar Inpres tidak mau pindah, walaupun kios yang selama ini ditempati untuk berjualan habis terbakar. Keengganan untuk pindah itu bukan tanpa alasan, karena kios yang sudah dibangun Pemkot Lubuklinggau di PBS ruangannya sangat kecil, Cuma berukuran 1x1 meter. 

“Kami tidak akan pindah kalau tempatnya cuma 1 x 1 meter, pedagang akan pindah apabila kios yang disiapkan tersebut ukurannya lebih dari itu,” tegasnya. Artinya pedagang akan pindah apabila ukuran kios minimal 2 x 2 meter. Kalau ukuran seperti yang dikehendaki pedagang, kemungkinan pedagang tanpa dipaksa akan pindah ke PBS. “ Tolong sampaikan ke Walikota dan Wakil Walikota Lubuklinggau pedagang akan pindah ke PBS asalkan tempat untuk berjualan memadai,” jelasnya.  

Dalam kesempatan itu Yar mengatakan bahwa ia mulai berdagang di blok A Pasar Inpres Lubuklinggau sejak 1994 lalu sampai sekarang. Sebelumnya lokasi tempat berjualan adalah tempat orang kencing dan buang air besar. “Kami merintis berjualan sejak mantan Bupati Rajab Semendawai. Dulunya tempat untuk kncing dan mising (buang air kecil dan besar, red),” paparnya.

Pertama kali merintis menurut Yar pedagangnya hanya berjumlah 20 orang, seiring bertambahnya waktu jumlah pedagangpun bertambah. Kalau sekarang mau usir kami tetap bertahan untuk memehuni kebutuhan hidup sehari-hari. “Sanggup pindah asal tempat memadai, karena tempat yang disiapkan terlalu sempit,” tegasnya. 

Di tempat terpisah Mail yang tokonya habis terbakar mengatakan akibat kebakaran tersebut, ia mengalami kerugian sekitar Rp 150 juta. Modal usaha tersebut kebanyakan pinjaman dari bank.

Untuk itu sebagai pedagang ia meminta ada kebijakan dari Pemkot Lubuklinggau untuk memikirkan pedagang yang kiosnya habis terbakar. “Apalagi saat ini masih menyekolahkan anak. Kalau tidak ada kebijakan bagaimana mau hidup dan menyekolahkan anak,” kata Mail. (ME-02)

Disinyalir Kapsul Lemak Babi Beredar di Linggau-Mura

*Agus : Masyarakat Tidak Perlu Khawatir

MUSI RAWAS - Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Sumsel menyatakan ada indikasi telah beredarnya obat-obatan yang mengandung lemak babi di pasaran. Tidak menutup kemungkinan telah kapsul yang tentunya haram ini beredar pada toko obat dan apotik di Sumatera Selatan termasuk Kota Lubuklinggau dan Kabupaten Musi Rawas (Mura).

Namun sejauh ini belum diketahui jenis dan merk obat-obatan yang mengandung lemak babi. Sebab BPOM Sumsel sedang melakukan penyelidikan serta penelitian terhadap obat-obatan yang disinyalir mengandung lemak babi tersebut. 

Menanggapi informasi ini, Kepala Dinas Kesehatan Mura, drg Hj Maimunah MS MM melalui Sekretaris Dinkes, Agus Mulyadi APT kepada Musirawas Ekspres Jumat (24/10) mengatakan pihaknya masih menunggu informasi lanjutan dari BPOM Sumsel. Sebab sejauh ini belum diketahui jenis dan merk obat-obat tersebut sehingga Dinkes Mura belum bisa menindaklanjuti isu tersebut.

"Kita masih menunggu hasil penelitian dari BPOM Sumsel dulu. Jika sudah diketahui maka kita akan inspeksi mendadak (Sidak) ke apotik dan toko obat agar obat tersebut tidak menyebar luas di pasaran atau dengan kata lain dilarang untuk dijual," kata Agus.

Dilanjutkannya, alasan kekhawatiran terhadap beredarnya obat yang mengandung lemak babi itu disebakan obat-obatan tidak disertai label halal dari BPOM, sehingga mengkhawatirkan umat muslim. "Kita tahu bahwa umat Islam melarang apapun yang berhubungan dengan babi, sehingga ini mengkhawatirkan umat muslim, apalagi tidak terdaftar di BPOM," terangnya.

Secara tehnis, lanjut Agus, lemak babi tersebut dinamakan gelatin (bahan baku untuk cangkang kapsul) yang diambil dari bagian tubuh hewan babi. Sedangkan obat berbentuk kapsul yang beredar saat ini menggunakan bahan baku dari hewan sapi, kambing, kerbau yang dianggap halal dan sudah terdaftar di BPOM. "Gelatin cangkang kapsul tersebut sudah terdaftar di BPOM sedangkan lemak babi sama sekali belum terdaftar sehingga belum diketahui bahan baku yang terkandung didalamnya," tukasnya.

Ditambahakan Agus kepada masyarakat tidak perlu resah terhadap informasi adanya kapsul yang terbuat dari lemak babi tersebut karena sejauh ini belum ada informasi yang jelas dari BPOM Sumsel.

Sementara itu Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Kota Lubuklinggau-Mura, Hasran Akwa SH didampingi Sekretaris YLKI, H Nurusulhi Nawawi Naning S.Sos kepada Musirawas Ekspres mengatakan sebelum obat yang diduga mengandung daging babi masuk beredar diwilayah Kota Lubuklinggau, Dinas Kesehatan (Dinkes) Lubuklinggau sudah mengambil langkah antisipasi.

Langkah antisipatif dengan melakukan crosscek ke setiap apotik yang ada di wilayah Kota Lubuklinggau. Tentunya yang mempunyai kewenangan melakukan crosscek adalah Dinkes. Selain itu juga Dinkes mempunyai kewenangan untuk melakukan pengawasan obat beredar di Lubuklinggau. 

"Karena tidak tertutup kemungkinan ada obat yang mengandung daging babi sudah beredar di linggau," terangnya. Kemudian Dinkes juga harus memberi peringatan terhadap pemilik apotik supaya jangan menjual produk copsul yangg mengandung lemak babi. "Sebelum masuk harus diantisipasi, jangan dsmpsi sudah masuk bsru diantisipasi," pintanya. (ME04/ME-02)

BMG Sumsel Perkirakan Curah Hujan di Mura Tinggi

*Potensi Banjir Tinggi, Tim Tagana Persiapkan Diri

MUSI RAWAS - Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Sumatera Selatan menyatakan intensitas curah hujan November 2008 hingga akhir Februari 2009 tinggi, sehingga potensi banjir di Kabupaten Musi Rawas (Mura) sangat terbuka.  

Kepala Dinas Sosial Mura, Drs Marzuki Tamah melalui Kasi Penanggulangan Bencana Alam, Efan Syaifani S.Pd, kepada Musirawas Ekspres, Jumat (24/10) mengatakan informasi tersebut telah mereka pihaknya. Untuk itu tim Taruna Siaga Bencana (Tagana) Dinsos Mura telah disiagakan di beberapa titik rawan banjir.

"Kita sudah siap, sewaktu-waktu terjadi banjir, tim akan segera turun ke lapangan untuk membantu warga dalam proses evakuasi," kata Efan.

Ditambahkannya, sejauh ini pihaknya terus melakukan pemantauan terhadap adanya indikasi peningkatan debit air di beberapa sungai utama di Kabupaten Mura, Dan kata Efan kenaikan air sungai masih dianggap dalam tahap wajar.

"Turunnya hujan beberapa hari terakhir mengakibatkan volume air sungai meningkat, tetapi setelah dilakukan pemantauan ketinggian tidak terlalu mengkhawatirkan atau masih dalam tahap kewajaran," terangnya.

Kata Efan sedikitnya 15 anggota tim Tagana yang tersebar di beberepa wilayah kecamatan rawan banjir saat ini terus berkoorodinasi dengan Dinsos Mura guna melaporkan perkembangan terbaru mengenai kemungkinan terjadinya banjir, sama halnya dengan laporan masyarakat terhadap ketinggian air sungai. Hal ini bertujuan agar nantinya dapat memberikan peringatan kepada warga sebelum terjadi banjir.

"Setidaknya warga dapat diberikan peringatan sebelum terjadi banjir, untuk itu warga hendaknya juga melaporkan perkembangan terbaru mengenai kemungkinan banjir di sungai yang ada di desa mereka," jelasnya.

Dilanjutkan Efan, tim Tagana terus memonitoring perkembangan Sungai Rawas, Rupit, Musi dan Kelingi pasca peringatan yang disampaikan pihak BMG Sumsel tersebut agar warga yang tinggal di bantaran sungai dapat diberikan peringatakan dan mempersiapkan diri sebelum banjir melanda desa mereka.

Dijelaskannya untuk saat ini tim Tagana baru memiliki peralatan tenda pleton, tenda regu, perahun karet, rompi renang, peralatan dapur umum, genset, lampu sorot, dan valbet. Tidak hanya itu, lanjut Evan pihaknya saat ini telah mengirimkan surat kepada Menteri RI Cq Dinas

Sosial Provinsi yang ditandatangani oleh Bupati prihal meminta bantuan peralatan penanggulangan bencana. Diantaranya peralatan menyelam 2 unit, perahu dolpin satu unit, perahu karet 3 unit dan mobil box 1unit. 

"Peralatan yang telah dimiliki oleh Dinsos saat ini masih terbatas dengan demikian kami meminta bantuan kepada Mensos untuk memberikan bantuan peralatan untuk penanggulangan bencana," pungkasnya. (ME04)

Pisah dengan Keluarga, Satu Hari Jatah Makan Rp 10 Ribu

*Cerita Pekerja ‘Impor’ Penggali Kabel dari Brebes

 Beberapa hari ada pemandangan yang beda di pinggiran jalan dalam wilayah Kota Lubuklinggau. Di sisi jalan raya ini terlihat pekerja penggali kabel yang diketahui milik PT Telkom, dengan tumpukan tanah hasil galian. Usut punya usut ternyata para pekerja ini bukan warga Kota Lubuklinggau atau daerah tetangga namun ternyata bisa diistilahkan impor (datangan, red) dari pulau Jawa tepatnya Brebes, Jawa Tengah. Bagaimana sebenarnya kisah tukang gali pipa yang katanya sudah keliling Indonesia ini, berikut hasil perbincangan Musirawas Ekspres dengan beberapa pekerja.

Oleh : Rahmad Sutesno - Lubuklinggau 

Biasanya jika ada proyek pemasangan kabel tanah baik Telkom, PLN ataupun pipa air, biasanya para pekerja membuat lubang di sepanjang sisi jalan untuk menanamnya menggunakan cangkul dan sekop. Namun untuk kabel Telkom yang akan ditanam di tanah ternyata teknisnya berbeda. Para pekerja tidak menggali secara keseluruhan namun hanya di beberapa bagian saja untuk kemudian semacam membuat bor manual pipa untuk memasukkan selang plastik warga oranye.

Pekerjaan ini tentunya membutuhkan kemahiran tersendiri. Tidak bisa dikerjakan oleh orang biasa yang sama sekali tidak ada pengalaman dalam hal ini. Makanya dalam pemasangan kabel PT Telkom di Kota Lubuklinggau dan Kabupaten Mura yang sudah berlangsung beberapa hari ini dikerjakan oleh orang khusus.

Tidak tanggung-tanggung para pekerja didatangkan dari Brebes, Jawa Tengah. Dan pekerja impor ini ternyata memang mempunyai spesialiasi membuat lubang untuk menanam kabel PT Telkol. Buktinya mereka sudah mengerjakan pekerjaan ini di beberapa provinsi di Indonesia. Nah karena sering keliling, otomatis para pekerja ini lebih sering meninggalkan kelurga yang mayoritas tinggal di Brebes. 

Jauh dari perhatian keluarga, makan seadanya, jika sakit harus berjuang sendiri dan wajib pintar-pintar mengantur keuangan agar bisa pulang membawa uang yang banyak untuk menutupi kehidupan keluarga dan tentunya menyenangkan anggota keluarga yang selalu menantikan kepulangan mereka. 

Salah satu contoh dialami Maskun (36) bersama anaknya Mulyadi (18) warga Brebes, Jawa Tengah. Kedua orang dari generasi berbeda ini rela pisah dengan keluarga hanya untuk mengais rezeki sebagai tukang gali pipa Telkom. Dengan jujur dan bangga, Maskun mengaku sangat bersyukur diberika kenikmatan sejat sehingga dirinya masih bisa bekerja. 

Ayah empat anak asal Brebes, Jawa Tengah itu mengaku sudah bisa mengumpulkan uang secukupnya untuk keperluan keluarga di Brebes. Membiayai sekolah anak, membeli sandang pangan dan papan untuk keluarga serta menyisihkan sedikit uang untuk melaksanakan khayalannya bisa piknik dengan anggota keluarga. Uangnya tentu didapatnya dari upah mengerjakan proyek galian di Lubuklinggau selama sekitar dua bulan ini. 

Bersama sekitar 70 temannya asal Pemalang, Jawa tengah Maskun mengerjakan proyeknya berupa penanaman kabel telepon di Lubuklinggau. Sudah setengah bulan Maskun dan teman-temannya menginjakkan kaki di Lubuklinggau tentunya untuk bekerja bermodalkan kemahiran dan fisik yang kuat. Sistem kerja Maskun dan puluhan temannya adalah borongan. Untuk galian satu meter dibayar Rp 9.000. 

 Dalam satu hari menurutnya terkadang bisa menggali lebih dari lima meter, dengan kedalaman galian untuk menanam pipa kabel telepon 2 hingga 2,4 meter.

"Paling sedikit saya masih bisa mendapat Rp 100.000 per hari. Kalau pengeluaran saya dan anak saya dijatahi Rp 20.000 per hari untuk makan dan rokok. Dan hasilnya saya masih bisa menyisihkan Rp 80.000 untuk keluarga nantinya di kampung dalam satu hari kerja," kata Maskun sambil menghisap rokok kretek.

Maskun yang ditemui Musirawas Ekspres ketika sedang asyik melepaskan peluh mengatakan sudah satu tahun ia dan anaknya (Mulyadi red) berkecimpung dengan tanah. Dimana sebelum menginjakkan kaki di Lubuklinggau Maskun bersama dengan teman-temannya sudah pulang dari Aceh, Sulawesi, Padang, Langkat dan Kalimantan.

“Setelah selesai di Llubuklinggau rencananya akan berpindah ke Lahat. Ya inilah kerja kita selalu berpindah untuk sekedar mencari uang menutupi kebutuhan. Di masa sulit seperti saat ini kerja kasar yang halal sangat penting,” tukasnya. *

8 Kecamatan Siaga Banjir

MUSI RAWAS – Delapan kecamatan di Kabupaten Musi Rawas (Mura) yang masuk dalam kategori rawan banjir saat ini makin meningkatkan kesiagaan. Pemicunya beberapa hari terakhir curah hujan semakin meningkat dan berpotensi mengakibatkan banjir. Bahkan beberapa daerah informasinya sudah mulai terendam. Hanya saja masih dalam tahap normal belum masuk kategori banjir dimana kondisi seperti ini pasti terjadi setiap musim penghujan.

Seperti halnya diungkapkan Camat Muara Lakitan, Drs Zulkarnain. Menurutnya saat ini beberapa desa di wilayah tugasnya sudah ada yang terendam. “Air memang sudah naik namun cepat langsung turun. Kondisi ini masih normal dan memang pasti terjadi tiap tahun,” jelas Zulkarnain. Diungkapkannya untuk permukaan sungai menurutnya juga mengalami peningkatan dan berpotensi mengakibatkan banjir. Untuk itu pihaknya terus melakukan pemantauan dan siaga. 

“Namun pada intinya kita berharap semuanya normal dan terkendali. Dan Alhamdulillah sejak banjir besar beberapa tahun lalu sampai saat ini belum pernah terjadi lagi. Kalaupun memang ada hanya genangan yang biasa terjadi saat musim hujan. Terhadap kondisi seperti ini masyarakat tidak terganggu dan dampaknya tidak terlalu besar,” papar Zulkarnain.

 Hal serupa diungkapkan Camat Muara Kelingi, Drs Ali Sadikin M.Si. “Permukaan air sungai sudah beberapa hari terakhir mulai naik akibat sering hujan. Namun masih terkendali dan batas normal,” kata Ali yang mengaku bersama pihak terkait terus melakukan pemantauan.

Termasuk untuk daerah-daerah yang menjadi langganan banjir di Muara Kelingi menurut Ali pihaknya menempatkan pihak yang bisa langsung berkoordinasi untuk memeberikan laporan jika ada tanda-tanda akan terjadi benana banjir. “Yang pasti kita meningkatkan kesiagaan terkhusus musim hujan saat ini,” tukasnya.

Sebelumnya Kepala Dinas Sosial Kabupaten Mura, Drs Marzuki Tama melalui Kasi Bencana Alam, Evan Saipani kapada Musirawas Ekspres mengatakan delapan kecamatan yang terdeteksi sebagai daerah rawan banjir yakni Kecamatan Ulu Rawas, Rawas Ulu, Rupit, Karang Dapo, Rawas Ilir, Muara Lakitan, Muara Kelingi, dan TP Kepungut.

Sebagai bentuk langkah antisipasi saat ini pihaknya bekerjasama dengan Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kabupaten Mura yang berjumlah 15 orang membentuk Posko Koordinasi dan Informasi Bencana. Yang pasti 15 anggota Tagana siap 24 jam untuk turun ke lapangan jika ada informasi terjadinya bencana alam terkhusus banjir. (ME-01)

200 Ha Sawah di Sitiharjo-Wukirsari Mulai Terairi

TUGUMULYO-Petani di Desa M Sitiharjo dan H Wukirsari Kecamatan Tugumulyo kini bisa berlega hati. Setelah lima bulan sawah mereka tidak mendapat jatah air lantaran jebolnya saluran irigasi sepanjang 5 meter kini sudah selesai diperbaiki. Setelah dua hari pengeringan semen yang digunakan untuk membuat dinding bangunan irigasi, Kamis (23/10) irigasi sudah dapat digunakan mengairi persawahan seluas 200 hektar milik petani Desa M Sitiharjo dan H Wukirsari.

Pantauan Musirawas Ekspres, saluran irigasi sekunder yang mengaliri sawah kini tidak lagi kering seperti satu bulan yang lalu. Tampak saluran irigasi sudah penuh terairi air, sawah-sawah yang semula tanahnya mengering sudah terlihat tergenangi air. Namun sangat disayangkan, akibat keringnya saluran irigasi beberapa waktu yang lalu, irigasi tersebut penuh dengan sampah.

Akhirnya pada saat air dialirkan ke saluran irigasi tersebut, membawa sampah yang ada di sepanjang saluran irigasi dan menumpuk di salah satu bendungan. Menumpuknya sampah-sampah ini, menghambat aliran air, sehingga sebagian saluran irigasi tersier hanya mendapat sedikit aliran air.

Wanto (33) mengatakan bahwa dirinya lega karena akhirnya sawah miliknya sudah terairi air kembali. “Akhir bulan ini mungkin saya sudah akan mulai mengolah sawah kembali, ini sudah sangat telat sekali. Tapi saya bersyukur masih bisa tetap mendapat jatah air lagi,” ujarnya Wanto ditemui Musirawas Ekspres, Jumat (24/10).(CW-02)

Hari ini Pembahasan Tunggakan Dana Bergulir

MUSI RAWAS-Sesuai rencana hari ini (Sabtu, 25/10) para penunggak dana bergulir 2005 dalam hal ini Ketua Kelompok Tani (Poktan) berkumpul di Op Room Pemkab Mura. Kehadiran Ketua Poktan ini memenuhi undangan Bagian Ekonomi Setda Mura untuk membahas mengenai tunggakan dana bergulir yang jumlahnya cukup fantastis tersebut.  

Kepala Bagian Ekonomi Setda Mura, Drs EC Priskodesi kepada Musirawas Ekspres mengungkapkan tujuan pertemuan tidak lain untuk mencari tahu kendala yang dialami peminjam dana bergulir hingga nunggak setoran. Pastinya seluruh Ketua Poktan akan kita diminta penjelasan secara mendetil mengenai kendala yang dialami sehingga nunggak dana bergulir cukup lama.

“Selain itu juga bisa jadi akan terungkap apakah ada pihak-pihak tertentu yang ternyata menghambat setoran dana bergulir tersebut. Sebab terindikasi ada memang oknum yang tidak menyetorkan dana bergulir padahal peminjamnya rajin membayar,” ungkap Priskodesi.

Langkah ini menurutnya dilakukan sebelum ditempuh jalur hukum terhadap penunggak tersebut jika terus membandel. Sebab hingga pertengahan Oktober 2008, hanya 30 persen dana bergulir yang telah dikembalikan dari total jumlah dana bergulir Rp 950 juta bagi 38 Poktan pada 13 Kecamatan. Dari Jumlah itu hanya Poktan R Rejo Sari yang sudah melunasi seluruh tunggakan dana bergulir. Sebenarnya jatuh tempo sudah habis sejak Februari 2008 namun diperpanjang hingga 30 September lalu.

Sebelumnya, kepada Musirawas Ekspres Priskodesi menjelaskan pihaknya telah mengirikan Surat Bupati Mura Nomor : 500/265/IV/2008 tertanggal 28 Juli 2008 kepada 38 kelompok penerima dana bergulir 2005 terkait instruksi pelunasan tunggakan dana bergulir. Apabila masih ada penunggak yang tidak mengindahkan Surat Bupati Mura untuk melunasi tunggakan mereka hingga batas waktu yang ditetapkan atau sejalan dengan penambahan waktu maka sesuai komitment awal, akan diteruskan penyelesaiannya melalui jalur hukum. (ME-01)

Banyak Laporan Balon Legislatif Asusila

LUBUKLINGGAU-Selama uji publik KPU Kota Lubuklinggau menerima 32 laporan dari masyarakat perihal nama-nama bakal calon (balon) legislatif yang tercantum di Daftar Calon Sementara (DCS). Hanya saja dari seluruh laporan tersebut, semuanya tanpa identitas sehingga tidak bisa ditindak lanjuti.  

Dijelaskan Divisi Tekhnis KPU Kota Lubuklinggau, Aspuda Ferdiansie SP, dari 32 laporan yang diterima KPU, 30 diantaranya menjelaskan adanya balon yang berbuat asusila, sedangkan sisanya dua orang balon masih menjadi PNS aktif. “Tapi masalahnya semua laporan tidak secara tertulis, juga tanpa identitas,” jelasnya.

Karena itulah ditambahkan Aspuda laporan tersebut sama sekali tidak bisa melakukan tindak lanjut. Hanya saja hal itu tetap saja menjadi masukan bagi KPU dalam menetapkan DCT. “Juga selama uji publik ada satu balon yang mengundurkan diri, alasannya masalah pribadi,” terangnya.

Undang Ketua dan Sekretaris Parpol

Sementara itu berkaitan dengan penetapan Daftar Calon Tetap (DCT), KPU Kota Lubuklinggau selama tiga hari (Senin-Rabu, 27-19/10), mengundang Ketua dan Sekretaris Parpol. Tujuannya untuk mengkonsultasikan draf DCT kepada masing-masing parpol.

Menurut Aspuda pihaknya sangat mengharapkan Ketua dan Sekretaris Parpol datang, karena hal ini berkaitan dengan nomor urut, nama dan gelar. Pasalnya jika sudah masuk dalam DCT, maka tidak bisa diubah-ubah lagi. 

Hanya saja diakui Aspuda, sebenarnya bisa saja berubah, namun sudah dalam kapasitas force major alias hal-hal yang di luar dugaan, misalnya calon yang bersangkutan meninggal dunia. “Kalau seperti itu, bisa langsung kita blok namanya. Istilahnya force major,” terangnya.

Selain itu sangat dibutuhkannya kehadiran Ketua dan Sekretaris masing-masing Parpol, karena keduanya diharuskan membubuhkan tanda tangan di setiap lembar pengajuan DCT dari parpol mereka. “Kalau semua berjalan lancar, selama tiga hari itu selesai dilaksanakan. Dengan artian sehari diadakan pertemuan dengan 11 hingga 12 parpol,” pungkasnya. (ME-03)

Total DAK Mura 2008 Rp 62 Milyar

*Baru Terserap 30 Persen

MUSI RAWAS - Dana Alokasi Khusus (DAK) yang diperuntukan untuk pembangunan di Kabupaten Musi Rawas yang dianggarkan dalam APBN cukup besar yakni mencapai Rp 62,59 Milyar. Tetapi sampai saat ini baru terserap 30 persen dari total peruntukan dana DAK Kabupaten Musi Rawas. Hal ini diungkapkan oleh Kepala Dinas Pendapatan, Keuangan dan Aset Daerah H.Gotri Suryanto,SE.M.Soc kepada koran ini.

Dikatakan Gotri, saat ini pihaknya masih menunggu laporan dari Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di lingkungan Pemkab Mura terkait dengan realisasi penyerapan DAK tahun 2008 ini untuk tahap pertama.

”Kalau tahap I selesai maka kami akan mengajukan kembali ke Depatemen Keuangan untuk mencairkan DAK tahap ke II yang diiringi oleh laporan penyerapan dan pelaksanaan pembangunan DAK tahap I,” jelasnya sembari mengatakan saat ini pihaknya telah mengajukan untuk proses pencairan DAK tahap ke II.

Dikatakan Gotri, tahapan pencairan DAK ini terdiri dari empat tahapan yakni Tahap I sebesar 30 persen, tahap II sebesar 30 persen, Tahap ke III 30 persen dan tahap ke IV 10 persen. 

Di Kabupaten Musi Rawas (Mura), SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) yang mendapatkan bantuan DAK ini ada sembilan diantarnya Bidang Pendidikan sebesar Rp 21,752 M, Kesehatan Rp 12,963 M, Kepemudaan Rp 763 juta, Infrastruktur Jalan Rp 10,585 M, Infrastruktur Irigasi Rp 4,653 M, Infastruktur Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Rp 3,233 M, Kelautan dan Perikanan Rp 2,265 M, Pertanian Rp 5,215 M dan Lingkungan Hidup Rp 1,161 M.

“Untuk tahap I telah dicairkan sebesar Rp 18,777 Milyar. Untuk menyerap bantuan DAK, Pemkab Mura juga mengangarkan dana untuk pendamping Pelaksanaan DAK sebesar 10 persen dari total bantuan DAK yang dianggarkan pada APBD 2008,” jelasnya. (ME04)

Siswa SD Ditemukan Membusuk

*Mengapung di Sungai Musi

MUARA LAKITAN-Setelah melakukan pencarian selama 12 Hari, akhirnya jenasah siswa kelas V SDN Muara Lakitan, Yogi (10) warga Kampung IV Kelurahan Muara Lakitan, Kecamatan Muara Lakitan, Jumat (24/10) sekitar pukul 13.20 WIB ditemukan sudah membusuk.

Jenasah korban ditemukan security PT Sinar Alam Permai (SAP), Nasution, dialiran sungai musi tepatnya dibelakang penampungan CPO PT SAP, dalam posisi mengapung dan mengeluarkan aroma yang tidak sedap, 5 km dari tempat korban terjatuh.  

Begitu ditemukan oleh masyarakat dan keluarga korban, jenasah Yogi langsung dibawa ke rumah duka untuk disemayamkan, kemudian langsung dimakamkan di tempat pemakaman umum setempat. 

Kapolres Musirawas AKBP Herry Nixson`S Sik melalui Kapolsek Muara Lakitan AKP Sunarso kepada Musirawas Ekspres menjelaskan, Sebagaimana diketahui kejadian yang menyebabkan Yogi tewas terbawa arus sungai musi, terjadi Minggu (13/10)sekitar pukul 16.00 WIB saat itu korban bersama teman-temannya bermain kejar-kejaran ditepi aliran sungai Musi yang berada dibelakang rumahnya.

Mungkin saat berlari itu korban terpeleset hingga terjatuh masuk kedalam sungai yang kebetulan arusnya sangat kencang.  Diduga korban yang belum mahir berenang diseret oleh arus yang pada saat itu sedang deras. Korban diketahui hanyut setelah teman-temannya memberitahu kepada keluarga korban bahwa korban hanyut terbawa arus sungai.(CW-01)

24 Oktober 2008

Kerugian Kebakaran Pasar Inpres Lebih Rp 1 Milyar



*Ratusan Kios dan Barang Dagangan Hangus

LUBUKLINGGAU-Ratusan kios, lapak dan auning milik pedagang di Blok A dan B Pasar Inpres Kota Lubuklinggau, Kamis (23/10) sekitar pukul 01.17 WIB, habis dilalap si jago merah. Akibat kejadian tersebut ditaksir kerugian Rp 1 Milyar lebih.

Kuat dugaan api yang membakar ratusan kios pasar inpres berasal dari konsleting listrik dari salah satu kios pakaian di Blok A. Tapi ada rumor yang beredar di kalangan pedagang, kebakaran itu terindikasi sengaja dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggungjawab. 

Dalam upaya memadamkan api, Pemkot Lubuklinggau sebenarnya sudah mengerahkan empat unit mobil pemadam bahaya kebakaran (PBK) berkapasitas 4 hingga 5 ribu liter air. Akan tetapi kobaran api baru dapat dipadamkan secara keseluruhan sekitar pukul 10.00 WIB. Sebelumnya sekitar pukul 05.00 WIB api sudah dapat dikendalikan petugas PBK. Namun, sekitar pukul 07.30 WIB api kembali menjalar dari puing-puing kayu yang sudah terbakar menjadi arang. 

Penyebabnya karena menyempitnya ruas jalan kalimantan karena dipadati barang dagangan yang diletakkan di pinggir jalan dan gang menuju titik kobaran api serta banyaknya selang yang bocor membuat proses pemadaman api oleh tim PBK, tagana dibantu anggota Polres Lubuklinggau dan Sat Pol PP terlihat lamban. 

Pantuan Musirawas Ekspres di lapangan, saat terjadi kebakaran para pedagang saling bahu membahu menyelamatkan dagangan milik mereka. Diduga suasana panik tersebut dimanfaatkan tangan-tangan jahil untuk menjarah dagangan yang tidak terjaga oleh pemiliknya. 

Barulah sekitar pukul 10.00 WIB, api benar-benar dapat dipadamkan oleh anggota PBK bersama turunnya hujan rintik-rintik. "Alhamdulilah syukur api sudah bisa kita padamkan, walaupun mobil PBK harus bolak-balik hingga 50 kali untuk mengisi air," ungkap kepala Sat Pol PP, Sarmidi. 

Sebagian besar pedagang yang daganganya habis tidak bersisa mengaku baru tahu kejadian itu setelah mendapat telephone dan kabar dari pedagang lainnya. "Aku baru tahu kios pakaian tebakar karena ada tukang ojek datang ke rumah. Setelah sampai ditempat, semuanya sudah habis menjadi abu," ungkap Zulkifli (45), warga Gang Makruf. 

Dirinya menaksir, total kerugian yang diderita mencapai Rp 35 juta. "Sebagian barang berupa pakaian dan kain baru masuk dari Palembang, dan sisa stock lebaran kemarin. Jadi mungkin sekitar harga barang yang habis dimakan api," ungkapnya. 

Kendati dirinya mendengar desas-desus kebakaran tersebut memang sengaja dilakukan oleh oknum tidak bertanggung jawab. akan tetapi dirinya lebih memilih untuk berfikir positif dan menyerahkan semuanya kepada Allah SWT. "Mau bagaimana lagi, yang sudah terbakar namanya bukan rizki. daripada berpikir yang tidak-tidak, lebih baik memikirkan bagaimana caranya mencari modal untuk berjulana kembali," pungkasnya 

Berdasarkan catatan posko kebakaran dinas koperasi dan pengelolaan pasar, hingga pukul 14.00 WIB tercatat baru ada 22 orang pedagang yang melaporkan kerugiannya. Dimana sebagian besar diantara mereka merupakan pedagang pecah belah dan mengalami kerugian rata-rata Rp 50 juta. 

"Mungkin karena mereka (pedagang) masih sibuk membereskan dagangannya yang tersisa sehingga belum bisa melapor ke sini. Jadi kita belum bisa memastikan berapa jumlah los, lapak dan auning yang terbakar beserta besaran kerugiannya," ungkap Kepala Dinas Koperasi dan Pengeloalaan Pasar, Syahril Nuri, kepada Musirawas Ekspres. 

Dirinya juga belum bisa memastikan penyebab terjadinya kebakaran tersebut. "Untuk sementara, diduga karena adanya hubungan arus pendek, tapi kita masih menunggu hasil penyelidikan dari pihak berwajib," ungkapnya. 

Sementara itu, Kapolres Kota Lubuklinggau AKBP Yohannes Soeharmanto melalui Wakapolres, Kompol Sonny MBA mengungkapkan, pihaknya masih mengumpulkan bukti-bukti di lapangan untuk mengetahui penyebab utama kebakaran. "Nanti kita juga akan meminta bantuan tim Labpor untuk mengidentifikasi sejumlah bukti yang kita temukan. Dan kita sekarang sudah memasang police line di tempat dugaan sumber api," pungkasnya. (ME-02)

Jangan Terpancing Isu Negatif


*Drs SN Prana Sohe MM

Wakil Walikota Lubuklinggau, Drs SN Prana Putra Sohe MM mengimbau kepada para pedagang supaya tidak terpancing berbagai isu yang dapat merugikan berbagai pihak. "Mari kita sikapi masalah ini dengan bijak. Jangan sampai mengambil kesimpulan sebelum adanya hasil penyelidikan dari pihak kepolisian," kata Prana. 

Sebagai bentuk rasa peduli, rencananya Pemkot Lubuklinggau bakal memberikan santunan bagi pedagang yang dagangannya habis terbakar. "Tapi dananya tidak besar, maka tidak mungkin kita akan memberikan bantuan untuk mengganti seluruh kerugian yang mereka (pedagang, red) derita," katanya. 

Ditanya soal apakah Pemkot Lubuklinggau bakal membangun lagi gedung pasar inpres yang hangus terbakar, secara tegas Prana mengatakan pihaknya tidak memiliki dana untuk membangun gedung baru. "Solusi yang paling tepat bagaimana kita akan memberdayakan mereka kembali untuk berdagang. Mengawalinya kita akan mengadakan dialog terlebih dahulu supaya kita tahu keinginan para pedagang," pungkasnya. (ME-02)

Sebelumnya Pernah Dengar Isu Pasar akan Ludes

Kerumunan anak-anak yang sedang asyik membolak-balikkan sisa- sisa puing kebakaran, dan mencari barang bekas yang masih layak dijual kiloan, seakan tak mau tahu duka yang dirasakan para pedagang yang kiosnya terbakar, tangis kesedihan terlihat pecah..........

Oleh : Eli Susilawati- Lubuklinggau

Pagi kemarin (Kamis, 23/10) merupakan hari berkabung bersama bagi para pedangang yang ada di kawasan Pasar Inpres Lubuklinggau, pasca kebakaran yang menimpa beberapa rumah toko ( rumah toko ) milik puluhan pedagang pecah belah, dan pakaian. Di sekitar puing- puing kios itu tampak beberapa pedagang.

Mereka ada yang berdiri termangu, duduk lemas tak berdaya dan ada yang semangat membolak- balikkan tumpukan sisa-sisa barang dagangan mereka. Tidak sedikit pula yang tak kuasa lagi menahan air mata yang sudah tak terbendung lagi, pekik tangis menambah suasana makin haru dan sedih.

Mael ( 37) salah satu pedagang pecah belah juga tak kuasa menahan kesedihannya. Setelah mendengar kabar bahwa Pasar Inpres terbakar ia bergegas pergi untuk melihatnya dan menyelamatkan barang dagangannya tetapi apalah daya kecepatan yang dimiliki tak secepat si jago merah yang dengan sekejap melumat habis seluruh barang pecah belah miliknya.

Sama halnya dengan Tarzan, sudah sekitar delapan tahun berjualan barang pecah belah dan hiasan rumah tangga lainnya juga harus kehilangan mata pencahariannya karena kiosnya telah berubah jadi arang. Kesedihannya tak terbendung, air matapun menetes, sebagai tulang punggung keluarga ia belum tahu bagaimana kelanjutannya. 

“Apa mungkin masih bisa berjualan lagi ditempat ini,” ungkapnya dengan nada bertanya. Tidak sedikit kerugian yang diderita akibat kebakaran ini, rata- rata pedagang memperkirakan kerugian mereka mencapai Rp. 50-an juta.

Demikian juga dengan Yunita, menurutnya sebelum peristiwa kebakaran terjadi, memang pernah mendenga isu- isu yang beredar di pasar bahwa setelah lebaran pasar yang mereka tempati bakal ludes atau habis. Ia tidak mengira kalau isu itu ternyata benar adanya, dan terbukti kini memang pasar telah menjadi rata, siapa pelaku dibalik semua ini?........

“Entahlah ini memang murni kebakaran, atau memang sengaja ada pihak-pihak dan oknum tetentu yang memang tidak senang dan menginginkan kami untuk pindah dari lokasi ini” ungkapnya sedih. Kalau memang ada pihak yang sengaja melakukan ini kok begitu tega.

“Toh kami semua yang ada di sini manusia, butuh makan dan mencari penghasilan, kalau memang benar- benar tidak menginginkan kami para pedagang tetap berjualan di sini, kenapa tidak dibicarakan secara baik- baik saja sehingga tidak menimbulkan kerugian material seperti ini “ tambahnya dengan linangan air mata.

Muklis juga tidak jauh memiliki nasib yang sama denga meraka dan lainnya. Kiosnya kini telah jadi arang, tidak secuilpun barang dagangan bisa diselamatkan. Walaupun malam itu sudah berusaha mendatangi tempat kejadian tetapi si jago merah telah berkobar-kobar, ia hanya bisa lemas termangu membiarkan barang dagangan terbakar. 

“Menurut cerita kebakaran ini karena terjadi konsleting arus listrik di salah satu toko pakaian, hingga menjalar ketempat lain, tapi kebenarannya saya tidak tahu,” tandasnya.

Selain itu juga mereka menyayangkan keberadaan pihak keamanan yang berjaga-jaga di kawasan tersebut. Kemana waktu api masih kecil, kenapa tidak segera mengambil langkah dan tindakan, malah terkesan sembunyi.

Namun apa mau dikata, peristiwa sudah terjadi, kebenaran dan kesalahan kini bukan lah persoalan yang harus diperebutkan. Namun nasib para pedagang itu tampak lesu dan kuyu, terlihat pandangan mata kosong dan shock, mereka semua terkejut dengan peristiwa ini, selain kerugian materi mereka juga harus kehilangan mata pencaharian. Hanya satu harapan mereka supaya pihak pemerintah tidak masa bodoh dengan peristiwa ini, namun setidaknya mau peduli atas penderiataan mereka, dan berharap dapat memberikan ganti rugi serta solusi yang baik. (*) 

Ketua DPRD Mura Akui Terima Uang


*Anggap Itu Uang Pribadi Ibnu Amin

*Wawako Hadiri Sidang Daops

LUBUKLINGGAU-Sidang kasus dugaan korupsi senilai Rp 1,8 M atau lebih dikenal kasus Daops (dana operasional) Setda Mura tahun 2004 dengan terdakwa mantan Sekda Mura, Drs HM Syarif Hidayat dan Heriansyah, mantan pemegang kas Setda Mura makin menarik perhatian. Setelah Rabu (22/10) mantan Ketua DPRD Mura memberikan kesaksian, pada sidang lanjutan Kamis (23/10) giliran Ketua DPRD Mura yang dihadirkan sebagai saksi di Pengadilan Negeri (PN) Lubuklinggau. 

Pastinya saksi yang dihadirkan JPU diantaranya mantan anggota dewan periode 1999-2004 yakni, Nuwantoro (50) warga Bilangun RT 11 RW 6 Palembang. Selain itu Ketua DPRD Mura, Drs HA Karim AR dan ibu dari orang nomor 2 di Kota Lubuklinggau yaitu Hamza Sohe yang datang ke PN didampingi anaknya yang menjabat sebagai Wawako Lubuklinggau, Drs SN Prana Putra Sohe MM.

Dalam persidangan, saksi Karim AR yang pada periode 1999- 2004 menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Mura dari Fraksi Golkar dengan jujur mengakui menerima uang sejumlah Rp 40 juta dalam dua tahap. Tahap pertama Rp 25 juta dan tahap kedua Rp 15 juta. Alasannya, dikatakan Karim AR pada April 2004, Ir H Ibnu Amin M.Sc yang saat itu belum dilantik jadi Bupati (masih Wabup, red) berjanji akan memberikan uang kepada 45 anggota dewan dari kantong pribadinya pada saat anggota dewan sedang melakukan rapat konsultasi. "Namun sampai sekarang uang tersebut belum pernah kami terima," ungkap Karim. 

Karim juga menjelaskan tidak tahu uang yang diterimanya berasal dari mana. Sepengetahuan saksi bahwa uang tersebut berasal dari Ibnu Amin karena sebelumnya yang bersangkutan berjanji akan memberikan uang kepada seluruh anggota dewan Periode 1999-2004. “Saya tidak tahu kalau uang tersebut adalah uang negara. Lagi pula pada saat petugas yang menyerahkan uang tersebut datang mengatakan bahwa uang tersebut dari Ibnu Amin,” ungkap Karim AR.

Pada 2006 saksi juga pernah membuat himbauan kepada seluruh mantan anggota dewan Periode 1999-2004 agar mengembalikan uang ke kas negara sejumlah Rp 40 juta. Dalam persidangan saksi mengatakan sudah mengembalikan uang tersebut pada 22 Mei 2008 lalu. Saksi juga mengatakan bahwa yang berhak untuk mencairkan Dana Anggaran Operasional Sekretariat Daerah (Daops) yaitu Bupati melalui Sekda. Sekda dalam hal ini menurutnya hanya korban. “Yang lebih bertanggung jawab lagi yaitu bupati sebagai atasan langsung,” ungkap saksi.

Saksi selanjutnya Normantoro mengakui menerima uang, dan akan mengembalikan uang tersebut kepada JPU dengan cara dicicil. Pasalnya saksi mengaku tidak mempunyai uang sebanyak itu, dan lagi pula pada saat menerima uang saksi menerima dalam dua tahap.

Saksi terakhir yang dihadirkan di persidangan kemarin yaitu Hamza Sohe yang tidak lain adalah ibu dari Wawako Lubuklinggau mengaku menerima uang sebesar Rp 40 juta yang diberikan dalam dua tahap dan siap untuk mengembalikan uang tersebut.

Setelah mendengarkan keterangan saksi-saksi, Ketua Sidang, Encep Yuliadi SH didampingi hakim anggota Mimi Haryani SH, Arman Surya Putra SH serta Panitera Pengganti (PP) Amren Amd menunda sidang hingga Jum’at (31/10) pukul 09.00 WIB dengan agenda sidang lanjutan pemeriksaan saksi-saksi.

Ditemui Musirawas Ekspres setelah sidang, Karim AR mengatakan bahwa kedua terdakwa tersebut merupakan korban. Yang semestinya bertanggung jawab yaitu atasannya langsung dalam hal ini Bupati yang saat itu menjabat. Karim juga mengatakan tidak ada yang tidak menerima dari seluruh anggota dewan periode 1999-2004. “Yang tidak menerima itu Malaikat,” ungkap karim sambil tertawa.(CW-01)

Top Reader

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More